no 1.Kaitan Psikologi Agama dengan Pendidikan Islam
Hubungan psikologi agama dan pendidikan Islam sangat terkait dengan tujuan pendidikan yakni menanamkan nilai kebaikan dan keadilan dalam diri seseorang. menurut Menurut Quraish Shihab, tujuan pendidikan al Qur`an (Islam) adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Atau dengan kata yang lebih singkat dan sering digunakan oleh al Qur`an, untuk bertaqwa kepada -Nya.
Pendidikan Islam sangat erat kaitannya dengan psikologi agama, bahkan psikologi agama digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan islam. Perkembangan agama pada masa anak, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil, dalam keluarga, disekolah dan dalam lingkungan masyarakat. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama (sesuai dengan ajaran agama) dan semakin banyak unsur agama, maka sikap, tindakan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama.
Rasulullah saw pernah menerapkan kaedah yaitu memperhatikan kondisi psikologis dan bertahap dalam mengajar. Jadi proses belajar mengajarnya didsarkan pada hal tersebut. Pengajar yang dilakukan oleh beliau teratur dan sesuai dengan prinsip tahapan dan kemudahan, sehingga proses belajar mngajar dapat berlangsung tanpa ada kebosanan dan sesaut yang memberatkan bagi orang-orang yang belajar. Dalam hal ini, Abdullah bin Mas’ud berkata “ Rasulullah saw mengosongkan memberikan nasehat kepad akami beberap hari untuk menghindari kebosanan”. Dengan kata lain, Nabi saw menetapkan hari-hari tertentu untuk mengajar mereka. Beliau memilih dan memperhatikan waktu-waktu yang tepat sehingga mereka semangat dan tidak melakukan sesuatu yang membosangkan bagi muri-muridnya. (Muhammad Fathi. 2009:44)
Untuk mencapai keberhasilan itu seorang pendidik perlu memperhatikan perkembangan keberagamaan seseorang. Pendidikan tanpa agama akan pincang, yaitu terjadi ketidak seimbangan antara moralitas dengan pengetahuan yang dimilikinya. Seperti dicontohkan ada anak yang menguasai teknologi komputer karena tidak dibarengi oleh jiwa keagamaan maka pengetahuannya dipakai mencuri uang di bank. Sebaliknya pengetahuan keagamaan tanpa dibarengi manajemen pendidikan yang baik maka akan percuma. Pendidikan dinilai punya peran penting dalam menanamkan rasa keagamaan pada seseorang. Pembinaan moral terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan pembiasaan yang diperoleh sejak kecil. Kebiasaan itu tertanam berangsur sesuai dengan kecerdasan seseorang.
PSIKOLOGIS DALAM STUDI ISLAM
PENDEKATAN PSIKOLOGIS DALAM STUDI ISLAM
A.
Latar Belakang
Psikologi sebagai ilmu terapan berkembang sejalan dengan
kegunaannya. Psikologi yang diakui sebagai disiplin yang mandiri sejak tahun
1879 ini ternyata telah memperlihatkan berbagai sumbangannya dalam berbagai
problema dan menguak misteri hidup manusia serta mengupayakan peningkatan
sumber daya manusia (Djamaludin Anlok, 1994:1). Kajian-kajian yang khusus
mengenai agama melalui pendekatan psikologis ini sejak awal abad ke-19 menjadi
kian berkembang, sehingga para ahli psikologi yang bersangkutan melalui karya
mereka telah membuka lapangan baru dalam kajian psikologi, psikologi agama.
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari
masalah-masalah kejiwaan yang ada hubungannya dengan keyakinan beragama.
Psikologi agama mencakup dua bidang kajian yang berbeda, yaitu psikologi dan
agama. Walaupun, psikologi dan agama mencakup masalah-masalah yang berhubungan
dengan kehidupan batin manusia, namun dari sisi tertentu terdapat perbedaan di
antara keduanya. Masalah kejiwaan dalam hubungannya dengan tingkah laku
manusia, bagaimanapun mungkin untuk dikaji secara empiris oleh ilmu pengetahuan
profan. Sebaliknya masalah agama yang berhubungan dengan keyakinan dianggap
memiliki nilai-nilai sakral. Mengkaji agama dengan menggunakan ilmu pengetahuan
profan, cenderung dianggap sebagai merendahkan nilai-nilai suci yang ada pada
agama sebagai ajaran yang bersumber pada wahyu Ilahi.
Titik pandang yang berbeda ini menimbulkan persepsi yang cukup
sulit untuk dipertemukan. Usaha untuk mempelajari agama melalui pendekatan
psikologi, bukanlah merupakan usaha yang dapat diterima begitu saja. Baik para
ilmuwan yang berkecimpung di bidang ilmu agama maupun di bidang psikologi
menolak usaha ini. Terlepas dari sikap pro dan kontra, kenyataan menunjukkan
bahwa agama mempengaruhi sikap dan tingkah laku pemeluknya. Sikap dan tingkah
laku yang berhubungan dengan keyakinan tersebut dapat diamati secara empiris.
Apa yang ditampilkan seorang penganut yang taat, bagaimanapun berbeda dari
sikap dan tingkah laku mereka yang kurang taat beragama. Di sini terlihat bahwa
dari sudut pandang psikologi, agama dapat berfungsi sebagai pendorong atau
penengah bagi tindakan-tindakan tertentu, sesuai dengan keyakinan yang dianut
seseorang. Dari sudut pandang ini maka dapat terungkap bahwa pemahaman mengenai
keyakinan seseorang dalam kaitan dengan agama yang dianutnya dapat dilakukan
melalui pendekatan psikologi.
Manusia menurut terminology Al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai
sudut pandang. Manusia disebut al-basyar berdasarkan pendekatan aspek
biologinya. Al-insan dilihat dari fungsi dan potensi yang dimilikinya, sebagai
khalifah dan mengembangkan ilmu. Kemudian manusia disebut al-nas yang umumnya
dilihat dari sudut pandang hubungan sosial yang dilakukannya. Dalam bentuk
pengertian umum, Al-Qur’an menyebut manusia sebagai Bani Adam. Selanjutnya,
manusia menurut pandangan Islam juga dipandang sebagai makhluk psikis, menurut
konsep Islam senantiasa dihubungkan dengan nilai-nilai agama.
B.
Sejarah Ilmu Psikologi
Pada zaman sebelum Masehi, jiwa manusia sudah menjadi topik
pembahasan para filsuf. Saat itu, para Filsuf sudah membicarakan aspek-aspek
kejiwaan manusia dan mereka mencari dalil, pengertian, serta pelbagai aksioma
umum, yang berlaku pada manusia. Ketika itu, psikologi memang sangat
dipengaruhi oleh cara-cara berpikir filsafat dan terpengaruh oleh filsafatnya
sendiri. Hal tersebut dimungkinkan karena para ahli psikologi pada masa itu
adalah juga ahli-ahli filsafat atau para ahli filsafat waktu itu juga ahli
psikologi. Sebelum tahun 1879, jiwa dipelajari oleh para filsuf dan para ahli
ilmu faal (fisiologi), sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari kedua
ilmu tersebut. Selain pengaruh dari ilmu faal, psikologi juga dipengaruhi oleh
satu hal yang tidak sepenuhnya berhubungan dengan ilmu faal, meskipun masih
erat hubungannya dengan ilmu kedokteran, yaitu hipnotisme.
Psikologi, dikukuhkan sebagai ilmu yang berdiri sendiri oleh
Wilhelm Wundt dengan didirikannya Laboratorium Psikologi pertama di dunia, di
Leipzig, pada tahun 1879. Sebelumnya, bibit-bibit psikologi sosial mulai
tumbuh, yaitu ketika Lazarus & Steindhal pada tahun 1860 mempelajari
bahasa, tradisi, dan institusi masyarakat untuk menemukan "jiwa umat
manusia" (human mind) yang berbeda dari "jiwa individual".
Yang diteliti dalam laboratorium psikologi tersebut, terutama
mengenai gejala pengamatan dan tanggapan manusia, seperti persepsi, reproduksi,
ingatan, asosiasi, dan fantasi. Tampak benar bahwa tokoh-tokoh psikologi
eksperimental ini terutama meneliti gejala-gejala yang termasuk
Bewusztseinpsychologie, atau gejala-gejala psikis yang berlangsung di dalam jiwa
yang sadar bagi diri manusia itu, sesuai dengan rumusan Descartes mengenai
jiwa, yaitu bahwa ilmu jiwa (psikologi) adalah ilmu pengetahuan mengenai
gejala-gejala kesadaran manusia. Gejala-gejala jiwa "bawah sadar"
belum diperhatikannya.
Beberapa penemuan penting dari Helmholtz yang perlu dicatat adalah
Tahun 1850, ia menghitung kecepatan jalannya impuls; tahun 1856, ia
mengemukakan bahwa semua warna sebenarnya berasal dari tiga warna dasar, yaitu
merah, hijau, dan biru; tahun 1863, ia mengemukakan bahwa perbedaan suara yang
dapat kita dengar disebabkan adanya reseptor pada telinga bagian dalam (cochlea
atau rumah siput), dan reseptor ini disebut membrana basillaris. Selain itu, ia
juga banyak menyelidiki tentang pengamatan, kemudian ia mengemukakan suatu
doktrin yang disebut unconscious inference atau unbewusster suhluse, yaitu
penyimpulan terhadap suatu rangsang dipengaruhi oleh adanya; faktor-faktor yang
tidak disadari. Apa yang masuk dalam pengamatan kita, kadang-kadang hanya samar
atau mungkin hanya sebagian saja yang mastik dalam lapangan pengamatan kita.
Meskipun demikian, kita dapat mangamati rangsang itu dengan jelas ataupun
mengamati objek secara keseluruhan.
C.
Pengertian Psikologi Agama
Psikologi agama terdiri dari dua kata, yaitu psikologi dan agama. Psikologi
berasal dari bahasa Yunani, yaitu “psyche”, yang berarti jiwa dan kata ‘logos” yang berarti
ilmu pengetahuan. Jadi secara harfiah psikologi diartikan dengan ilmu jiwa. Psikologi
secara istilah adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai
macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.
Lahey memberikan definisi “psychology is the scientific study of
behavior and mental processes” ( psikologi adalah kajian ilmiah tentang
tingkah laku dan proses mental). Tingkah laku adalah segala sesuatu / kegiatan
yang dapat diamati, sedangkan proses mental didalamnya mencakup pikiran,
perasaan juga motivasi. Jadi singkatnya psikologi mencoba meneliti dan mempelajari
sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan
yang berada di belakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, maka
untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin di lihat dari gejala
yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya.
Zakiah Daradjat memberikan definisi psikologi agama adalah meneliti
dan menalaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar
pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup
pada umumnya. Disamping itu, psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan
perkembangan jiwa agama seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi
keyakinan tersebut.
Memang diakui bahwa untuk mengemukakan definisi secara tegas
mengenai psikologi agama agak sulit, karena selain disiplin ilmu ini mencakup
bidang kajian yang berlainan. Baik psikologi maupun agama merupakan persoalan
yang abstrak. Terlebih lagi masalah yang menyangkut agama, sukar untuk
didefinisikan secara jelas dan dapat disetujui semua pihak. Apalagi agama
menyangkut kehidupan batin yang paling mendalam dan peka. Selain pengalaman
agama bersifat individual dan subjektif, sehingga setiap orang memiliki
penghayatan yang berbeda-beda.
Dalam kajian psikologi agama, persoalan agama tidak ditinjau dari
makna yang terkandung dalam pengertian yang bersifat definitif. Pengertian
agama dalam kajian dimaksud lebih umum, yaitu mengenai proses kejiwaan terhadap
terhadap agama serta pengaruhnya dalam kehidupan pada umumnya. Melalui pengertian
umum seperti itu, paling tidak akan dapat diamati fungsi dan peranan keyakinan
terhadap sesuatu yang dianggap sebagai agama kepada sikap dan tingkah laku
lahir dan batin seseorang. Dengan kata lain, bagaimana pengaruh keberagamaan
terhadap proses dan kehidupan kejiwaan sehingga terlihat dalam sikap dan
tingkah laku lahir ( sikap dan tindakan serta cara bereaksi) serta sikap, dan
tingkah laku batin ( cara berfikir, merasa atau sikap emosi).
Selain psikologi agama, muncul pula psikologi yang lebih spesifik
kepada Islam dengan nama psikologi Islam. Psikologi Islam ini didefinisikan sebagai kajian Islam yang berhubungan
dengan aspek-aspek dan prilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat
membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup
di dunia dan akhirat. Hakikat definisi tersebut mengandung tiga
unsur pokok: pertama, bahwa psikologi Islam merupakan salah satu kajian dari
masalah-masalah keislaman. Kedua, bahwa psikologi Islam mengkaji aspek-aspek
dan prilaku kejiwaan manusia, tidak hanya menekankan prilaku kejiwaan saja
tetapi juga apa hakikat jiwa sesungguhnya. Ketiga, bahwa psikologi Islam bukan
netral etik, melainkan sarat akan nilai etik.
Terlepas dari adanya perbedaan paradigma antara psikologi agama
secara umum dengan psikologi Islam, dapat disimpulkan bahwa cabang ilmu ini
mempunyai objek kajian tentang jiwa dan segala yang berkaitan dengannya, di
samping itu psikologi ini juga meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada
seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan itu dalam sikap dan
tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya.
D. Aliran-Aliran Dalam Psikologi
1. Strukturalisme (Structuralism)
Struktur adalah sebuah bangunan yang terdiri atas berbagai unsur
yang satu sama lain berkaitan. Dengan demikian, setiap perubahan yang terjadi
pada sebuah unsur struktur akan mengakibatkan perubahan hubungan antarunsur
tersebut. Jadi, hubungan antarunsur akan mengatur sendiri bila ada unsur yang
berubah atau hilang. Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya
psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri, psikologi didominasi oleh
gagasan serta usaha mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang
dewasa normal, melalui penelitian laboratorium dengan menggunakan metode
introspeksi.
2. Aliran Fungsionalisme (Functional Psychology)
Aliran psikologi ini merupakan reaksi terhadap
strukturalisme.tentang keadaan-keadaan mental. Jika para strukturalis bertanya
"Apa kesadaran itu", para fungsionalis bertanya "Untuk apa
kesadaran itu". Apa tujuan dan fungsinya? Karena ingin mempelajari cara
orang menggunakan pengalaman mental untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan
sekitar, mereka disebut fungsionalis.
Fungsionalisme adalah suatu tendensi dalam psikologi yang
menyatakan bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah
adaptasi organisme biologis Drever (1988 menyebut fungsionalisme (functional
Psychology) sebagai suatu jenis psikologi yang menggarisbawahi fungsi-fungsi
dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan
fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan
organisme itu, dan bukan menggambarkan atau menganalisis fakta-fakta pengalaman
atau kelakuan; atau suatu psikologi yang mendekati masalah pokok dari sudut
pandang yang dinamis, dan bukan dari sudut pandang statis.
3. Aliran Psikoanalisis
Lahirnya aliran psikoanalisis dalam dunia psikologi oleh para ahli
psikologi sering dianalogikan dengan revolusi Convernican dalam natural
science; dicaci, ditolak, tapi pada akhirnya diagungkan. Sistem kepribadian
yang ketiga Super-Ego - berisi kata hati atau conscience. Kata hati ini
berhubungan dengan lingkungan sosial dan mempunyai nilai-nilai moral, sehingga
merupakan kontrol atau sensor terhadap dorongan-dorongan yang datang dari Id.
Super-Ego menghendaki agar dorongan-dorongan tertentu saja dari Id yang
direalisasikan; sedangkan dorongan-dorongan yang tidak sesuai dengan
nilai-nilai moral, tetap tidak dipenuhi.
Karena itu, ada semacam kontradiksi antara Id dan Super Ego yang
harus dapat memenuhi tuntunan kedua sistem kepribadian lainnya ini secara
seimbang. Kalau Ego gagal menjaga keseimbangan antara dorongan dari Id dan
larangan-larangan dari Super Ego, individu yang bersangkutan akan menderita
konflik batin yang terus-menerus; dan konflik ini akan menjadi dasar dari
neurose.
4. Aliran Psikologi Gestalt (Gestalt Psychology)
Eksperimen Gestalt pertama, menurut Atkinson clan kawan-kawan,
adalah mempelajari gerakan, terutama fenomena phi. Jika dua cahaya dinyalakan
secara berurutan (asalkan waktu dan lokasi spasialnya tepat), subjek melihat
cahaya tunggal bergerak dari posisi cahaya pertama ke cahaya kedua. Fenomena
kesan pergerakan ini telah banyak diketahui, tetapi ahli psikologi Gestalt
menangkap kepentingan teoretis pola stimuli dalam menghasilkan efek. Pengalaman
kita bergantung pada pola yang dibentuk oleh stimuli dan pada organisasi
pengalaman, menurut mereka. Apa yang kita lihat adalah relatif terhadap latar
belakang, dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruhan berbeda dengan
penjumlahan bagian-bagiannya; keseluruhan terbagi atas bagian dari suatu
hubungan.
5. Aliran Behaviorisme (Behaviorism)
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang
menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga
psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak).
Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat
diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, kaum behavioris lebih dikenal
dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia, kecuali
insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme
sebagai pengaruh lingkungan. Tentu saja, behaviorisme tidak mau mempersoalkan
apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional, behaviorisme hanya
ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor
lingkungan.
6. Aliran Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif adalah pendekatan psikologi yang memusatkan
perhatian pada cara kita merasakan, mengolah, menyimpan, dan merespons
informasi. Pendekatan kognitif dapat diterapkan pada hampir semua bidang
psikologi. Pada bagian terakhir bab ini, kita akan melihat dua contoh
pendekatan kognitif. Psikologi kognitif termasuk bidang studi utama yang
berdiri sendiri dan sebagian besar isi bab ini disediakan untuk itu.
7. Aliran Psikologi Humanistik
Tujuan psikologi humanistik adalah
membantu manusia memutuskan apa yang dikehendakinya dan membantu memenuhi
potensinya. Artinya, praktek humanistik dalam terapi, pendidikan atau di tempat
kerja, selalu dipusatkan untuk menciptakan kondisi-kondisi agar manusia dapat
menentukan pikiran dan mengikuti tujuannya sendiri. Manusia dimotivasi oleh adanya keinginan untuk
berkembang dan memenuhi potensinya.
Manusia bisa memilih ingin menjadi seperti apa, dan tahu apa yang
terbaik bagi dirinya. Kita semua bisa memutuskan bagaimana cara kita menjalani
hidup. Penekanan pada kehendak bebas (free will) ini sangat berlawanan dengan
pendekatan perilaku dan psikodinamika yang lebih menekankan pada apa yang
menyebabkan kita berperilaku demikian (ini disebut determinisme).
D. Pengkajian Psikologi Dalam Studi Islam
Dalam konteks studi islam, ada dua tipe pendekatan terhadap psikologi
islami yaitu: Mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan psikologi dalam
hubungannya dengan islam adalah konsep psikologi modern yang telah kita kenal
selama ini yang telah mengalami proses filterisasi dan di dalamnya terdapat
wawasan islam. Jadi, konsep-konsep atau teori aliran-aliran psikologi modern
kita terima secara kritis, menurut pandangan ini, tugas kita adalah membuang
konsep-konsep yang kontra atau yang anti terhadap islam.
Mereka berpandangan bahwa psikologi modern yang ada dan yang kita kenal
pada selama ini bisa sja kita sebut Islami asalkan sesuai dengan pandangan
islam. Salah satu aliran psikologi yang termasuk Islami adalah psikologi
Humanistik. Seorang pemikir psikologi Islam berpandangan bahwa teori-teori
Psikologi barat dapat kita manfaatkan dan dapat disebut psikologi Islami
asalkan praktiknya berwawasan Islam. Ia mengungkapkan bahwa konsep tentang
struktur kepribadian manusa yang dibangun oleh tokoh-tokoh modern seperti alam
sadar, pra sadar dan tak sadar (psikoanalisis), afeksi, konasi & kognisi
(Behavior) serta dimensi somatis, psikis dan neotik (Humanistik) dll, dapat
kita pandang sebagai Islam setelah semua unsur dalam struktur kepribadian
tersebut di ungkap dalam konsep ruh.
Dengan penekanannya pada pengembangan pribadi dan pentingnya
pengalaman hidup individu di dunia, tradisi humanistik tergolong unik karena
inilah satu-satunya pendekatan psikologi yang cocok dengan gagasan
spiritualitas. Walaupun tidak semua pandangan ahli psikologi bersifat spiritual
atau religius, walaupun Anda tidak harus menjadi seorang yang religius atau
spiritual untuk menerapkan atau menarik manfaat dari psikologi humanistik,
namun ada keterkaitan yang kuat antara pendekatan ini dengan keagamaan.
Berdasarkan penjabaran di atas, psikologi Islam di artikan sebagai
perspektif modern dengan membuang konsep-konsep yang tidak sesuai dengan Islam.
Psikologi adalah disiplin Ilmu yang sekuler dan karenanya memberikan wawasan
Islam terhadap konsep psikologi modern adalah suatu cara agar konsep-konsep
yang dipakai mengalami filterisasi dan tidak menyesatkan. Salah satu hal dalam
psikologi yang berkaitan dengan dunia Islam sebagai berikut dalam Firman Allah
(QS 41: 31), “ kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri”. Ayat ini
hendak mengungkapkan bahwa di alam semesta ini maupun dalam diri manusia
terdapat sesuatu yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan Allah. Yang di
maksud dengan “sesuatu” tersebut adalah rahasia-rahasia tentang keadaan alam
dan keadaan manusia, maka jadilah manusia sebagai makhluk yang berpengetahuan
dan berilmu.
Dalam hal ini bisa kita lihat lebih dalam bahwa manusia memiliki
peranan penting dalam Al-qur’an, kalau diperhatikan lebih cermat, salah satu
istilah yang berkenaan dengan manusia yaitu nafs yang di sebut ratusan kali,
belum lagi al-naas, al basyar, dan al-insaan. Istilah tersebut menunjukkan
betapa Alqur’an banyak sekali berbicara tentang manusia. Secara kompleksitas,
dan bisa dijadikan lahan kajian, dalam Al-qur’an banyak yg berbicara tentang
diri manusia yang berkaitan dengan psikologi seperti, Nafs, Ruh, Aql, Qolb,
Fitrah, Akhlak dsb. Jiwa atau Nafs bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia
merupakan satu kesatuan dengan keadaan badan. Antara jiwa dan badan muncul suatu
kesinambungan yang mencerminkan adanya totalitas dan unitas.
Secara garis besar, psikologi juga banyak kaitannya dengan agama,
menurut Jalaludin dalam bukunya Psikologi Agama, psikologi agama merupakan
cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam
hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam
kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Menurut Prof Zakiyah Drajat, menyatakan bahwa
lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan
kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai
hasil dari keyakinan (terhadap suatu agama yang di anut). Dalam hal ini bisa
dikaitkan denga teori humanistik bahwasanya manusia adalah makhluk yang
positif, manusia bisa memilih ingin menjadi seperti apa, dan tahu apa yang
terbaik bagi dirinya. Dalam hal ini manusia bisa memilih akan menjalankan agama
yang dianut seperti apa, mengikuti perasaan hati dan kesadaran atas apa yang
dia kerjakan.
Seperti penjabaran di atas, hasil kajan psikologi juga dapat
dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehdupan seperti kehidupan, seperti bidang
pendidikan, interaksi sosial, perkembangan manusia dan lain sebagainya. Dalam
bidang pendidikan di sini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh
mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan
serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan
berperan sebagai hakikat kejadiannya. Jadi dalam pengertian pendidikan Islam
ini tidak hanya dibatasi oleh institusi atau lapangan pendidikan tertentu,
pendidikan Islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas. Salah satu contohnya
pendidikan dalam keluarga, pendidikan pertama pada anak adalah keluarga, dari
keluarga anak belajar banyak hal seperti sopan-santun, belajar mengenal agama
sampai pada tolerasi dan kasih sayang. Karena ibaranya keluarga merupakan
lingkungan kecil yang membentuk suatu karakter pada diri anak. Oleh sebab itu
diharapka orang tua sebagai pendidik sekaligus modelling bagi anak, dapat
memberikan contoh yang baik, karena pada dasarnya anak belajar dari apa yang
dia lihat, apa yang dia model, hal ini kaitannya dengan psikologi perilaku
(behavior)
E.
Contoh-Contoh Studi Islam Dengan Pendekatan Psikologi Agama
Pendekatan psikologi agama dapat di lihat
contohnya dalam studi Islam. Adapun contoh psikologi agama yang digunakan dalam
kajian Islam dan umat Islam dapat dilihat dalam ritual manusia dalam agama yang
diyakininya. diantaranya, tentang perasaan seorang ahli tasawuf terhadap Allah,
yang mana dia merasa Allah selalu hadir dalam hatinya dan dia juga selalu
membiasakan lisannya untuk berzikir kepada Allah yang dilakukannya secara terus
menerus dan secara sadar maka akan melekatlah di dalam hatinya dan akan
menimbulkan ketentraman jiwa.
Seorang muslim yang hatinya selalu merasa
tenang, bahagia, suka menolong orang lain, walaupun kehidupannya sangat
sederhana. Tengah malam ia bangun untuk mengabdi pada Allah dan waktu subuh
sebelum semua orang terbangun, dia telah duduk pula di tikar sholatnya,
sebaliknya ada orang muslim yang cukup kaya dan banyak hartanya, namun hatinya
penuh kegoncangan, tidak pernah merasa puas, di rumah tangganya selalu
bertengkar. Hal ini jelas menunjukkan seberapa besar pengaruh agama dalam
kehidupannya.
Begitu juga yang dapat dirasakan oleh orang
biasa, seperti perasaan lega, tenang, sehabis shalat dan setelah selesai
membaca al-Qur’an dan berdoa. Dan sikap seorang muslim ketika memasuki mesjid
akan menunjukkan sikap hormat, dari pada orang yang menganut keyakinan lain.
Sikap demikian juga akan dijumpai pada penganut agama lain saat memasuki rumah
ibadahnya masing-masing. Bagi setiap penganut agama, rumah ibadah memberi
pengalaman batin tersendiri yang menimbulkan reaksi terhadap tingkah laku
masing-masing sesuai dengan keyakinan mereka. Seorang muslim mengucapkan salam
ketika berjumpa dengan muslim lainnya, hormat kepada orang tua, menutup aurat,
rela berkorban untuk kebenaran dan sebagainya adalah merupakan gejala-gejala
keagamaan yang dapat dijelaskan dengan pendekatan psikologi agama.
Berapa banyak orang muslim yang berubah jalan
hidupnya dan keyakinannya dalam waktu yang singkat, seperti dari seorang yang
taat beribadah berubah menjadi orang yang lalai dan menentang agama, dari yang beragama
Islam menjadi non Islam. Seorang muslim yang keluar dari Islam (murtad), banyak
faktor yang mempengaruhinya. Untuk mengetahui faktor-faktor tersebut maka
jawabannya dapat dilihat dari pendekatan psikologi. Adapun yang ingin di jawab
pendekatan psikologi adalah faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan
seorang murtad, karena menurut psikologi agama ada dua faktor yang menyebabkan
seorang murtad, yaitu faktor Intern (dalam diri) dan faktor Ekstren (faktor
luar diri).
Faktor Intern (dalam diri) yang bisa
mempengaruhi seseorang murtad adalah dari kepribadiannya. Secara psikologi tipe
kepribadian tertentu akan mempengaruhi jiwa seseorang. Dalam penelitian William
James, ia menemukan bahwa tipe melankolis memiliki kerentanan perasaan lebih
mendalam yang dapat menyebabkan terjadinya konversi agama/ pindah agama dalam
dirinya. Kemudian faktor pembawaan, menurut penelitian Guy E. Swanson bahwa ada
semacam kecendrungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak sulung
dan anak yang bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan anak
yang dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stress jiwa.
Kondisi yang dibawa berdasarkan urutan kelahiran itu banyak mempengaruhi
terjadinya seorang murtad.
Adapun faktor Ekstren adalah pertama, faktor
keluarga, keretakan keluarga, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual,
kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat dan lainnya, sehingga kondisi ini
menyebabkan seorang stress dan untuk meredakan stress atau tekanan batinnya dia
melakukan konversi agama. Kedua, faktor lingkungan tempat tinggal yang mana
jika seseorang merasa terlempar atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat
maka dia akan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahannya hilang.
Ketiga, faktor perubahan status yang mana jika perubahan status ini terjadi
secara mendadak akan banyak mempengaruhi konversi agama, misalnya perceraian,
kawin dengan orang yang berlainan agama, ke luar dari sekolah. Keempat, faktor
kemiskinan, kondisi sosial yang sulit juga merupakan faktor yang mendorong
untuk konversi agama. Masyarakat awam yang miskin cenderung untuk memeluk agama
yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik. Kebutuhan mendesak akan
sandang dan pangan dapat mempengaruhi.
Dari hal di atas, dapat disimpulkan bahwa
tekanan batin atau stress dapat mendorong seseorang untuk melakukan konversi
agama. Dalam kondisi jiwa yang tertekan, maka secara psikologis kehidupan
seseorang itu kosong dan tak berdaya sehingga dia berusaha untuk mencari
ketenangan batin, salah satu caranya dengan konversi agama.
F.
Problematika Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Tokoh yang dianggap paling berjasa dalam
melahirkan psikologi agama adalah Edwin Diller Starbuck, William James dan
James H. Leuba. Mereka ini adalah orang-orang non muslim dan orang Barat.
Setiap pendekatan mempunyai manfaat dan problematika, begitu juga dengan
pendekatan psikologi agama yang mereka pelopori, banyak memberikan manfaat dan
solusi dalam memecahkan berbagai problema, terutama dalam hal yang menyangkut
persoalan kejiwaan yang berkaitan dengan masalah agama, dengan kata lain,
bagaimana pengaruh keberagamaan terhadap proses dan kehidupan kejiwaan sehingga
terlihat dalam sikap dan tingkah laku lahir ( sikap dan tindakan serta cara
bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku batin ( cara berfikir, merasa atau
sikap emosi).
Dengan demikian, psikologi agama dapat
dimanfaatkan oleh umat Islam untuk memberikan penjelasan ilmiah terhadap
berbagai problema dan dapat pula dipakai untuk meningkatkan sumber daya
manusianya. Setidaknya, psikologi agama dapat digunakan sebagai alat analisis
untuk membedah berbagai permasalahan yang dihadapi umat Islam, seperti masalah
kepatuhan pada aturan Allah, keterbelakangan pendidikan, dan sebagainya.
Permasalahan tersebut dapat dianalisis dengan psikologi agama.
Walaupun demikian, disadari sepenuhnya bahwa
sebagai ilmu yang dibangun dan dikembangkan dalam masyarakat dan budaya Barat,
maka sangat mungkin kerangka pikir psikologi agama ini dipenuhi dengan
pandangan-pandangan atau nilai-nilai hidup masyarakat Barat. Kenyataan yang
sulit dibantah adalah psikologi lahir dengan didasarkan pada paham-paham
masyarakat Barat yang sekularistik. Tak jarang kita temui pandangan-pandangan
psikologi berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan Islam.
Adapun problematika atau permasalahan yang
mungkin timbul dengan digunakan psikologi agama dalam mengkaji Islam adalah
tentang konsep-konsep psikologi agama yang memiliki kekurangan dan keterbatasan
bahkan mungin dapat menimbulkan bias yang sangat besar, karena sering kali
mereduksi Islam ke dalam pengertian-pengertian yang parsial dan tidak utuh.
Selain itu, kerena titik berangkatnya pembahasan ini adalah konsep psikologi,
sehingga sering kali membuat kita terjebak, yaitu memandang persoalan lebih
berangkat dari pemahaman terhadap psikologi dari pada Islamnya. Dengan demikian
alangkah baiknya jika kita membangun suatu konsep psikologi yang berdasarkan
pada Islam dengan merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadis.
G. Signifikasi Dan
Kontribusi Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Pada zaman sekarang ini banyak terjadi
fenomena seperti adanya bunuh diri bersama di negara Jepang dan beberapa negara
lainnya, fenomena pergaulan bebas (free sex), tingginya tingkat pencurian
motor, pembunuhan tanpa perasaan bersalah (mutilasi), bahkan fenomena-fenomena
yang bersampul agama Islam sekalipun, seperti kasus bom bunuh diri yang
dilakukan oleh umat Islam, perusakan tempat-tempat hiburan di Jakarta, beberapa
tahun yang lalu dan sebagainya. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya
fenomena tersebut? Hal ini tentu tidak dapat lagi sepenuhnya dikaji dengan
pendekatan teologis-normatif semata. Maka disinilah metode dan
pendekatan-pendekatan lainnya mengambil peran penting, termasuk psikologi,
khususnya psikologi agama.
Pendekatan psikologi agama mempunyai peranan
penting dan memberikan banyak sumbangan dalam studi Islam. Psikologi agama
berguna untuk mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, difahami, dan
diamalkan seseorang muslim, misalnya kita dapat mengetahui pengaruh dari ibadah
shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya dalam kehidupan seseorang.
Psikologi agama juga dapat digunakan sebagai
alat untuk memasukkan dan menanamkan ajaran agama Islam ke dalam jiwa seseorang
sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan pengetahuan ini, maka dapat disusun
langkah-langkah baru yang lebih efesien dalam menanamkan ajaran agama Islam,
baik untuk masa sekarang, maupun dimasa yang akan datang. Itulah sebabnya
pendekatan psikologi agama ini banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan
sikap keberagamaan seseorang. Dengan demikian seseorang akan memiliki tingkat
kepuasan tersendiri dalam agamanya, karena seluruh persoalan hidupnya mendapat
bimbingan agama.
Selain itu, psikologi agama membantu untuk
mengarahkan seseorang pada pendidikan agama Islam yang tepat, seperti terhadap
seorang bayi, bahkan terhadap jabang bayi yang ada dalam kandungan seorang ibu
yang sedang hamil. Lebih lanjut Jalaluddin menerangkan dalam ruang lingkup yang
lebih luas lagi. Jepang ternyata menggunakan pendekatan psikologi agama dalam
membangun negaranya. Bermula dari mitos bahwa kaisar Jepang adalah titisan Dewa
Matahari (Amiterasu Omikami), mereka dapat menumbuhkan jiwa Bushido,
yaitu ketaatan terhadap pemimpin. Mitos ini telah dapat membangkitkan perasaan
agama para prajurit Jepang dalam perang dunia II untuk melakukan Harakiri
(bunuh diri) dan ikut dalam pasukan Kamiokaze (pasukan berani mati). Dan
setelah selesai perang dunia II, jiwa Bushido tersebut bergeser menjadi etos
kerja dan disiplin serta tanggung jawab moral.
Adapun kontribusi pendekatan psikologi agama dalam studi Islam adalah :
- Untuk membantu di dalam meneliti bagaimana latar belakang keyakinan beragama seorang muslim.
- Untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah keberagamaan seorang muslim, seperti penyakit mental dan hubungannya dengan keyakinan beragama.
- Untuk mengetahui bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya dan bagaimana pengaruh hubungan tersebut terhadap prilaku dan cara berpikir.
Dalam banyak kasus,
pendekatan psikologi agama, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran beragama. Pengobatan
pasien di rumah-rumah sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan nara pidana di
lembaga permasyarakatan banyak dilakukan dengan cara menggunakan psikologi
agama. Demikian pula dalam lapangan pendidikan, psikologi agama dapat
difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan peserta didik, dan
sebagainya.
2.
Faktor yang Mempengaruhi
Kenakalan remaja
dalam studi masalah
sosial dapat dikategorikan
ke dalam perilaku menyimpang. Dalam perspektif
perilaku menyimpang masalah sosial
terjadi karena terdapat
penyimpangan perilaku dari
berbagai aturan-aturan
sosial ataupun dari
nilai dan norma
sosial yang berlaku.
Perilaku menyimpang dapat
dianggap sebagai sumber masalah karena
dapat membahayakan tegaknya
sistem sosial. Penggunaan konsep
perilaku menyimpang secara
tersirat mengandung makna
bahwa ada jalur
baku yang harus
ditempuh. Perilaku yang tidak
melalui jalur tersebut berarti telah
menyimpang. Untuk mengetahui latar
belakang perilaku menyimpang
perlu membedakan adanya perilaku
menyimpang yang tidak disengaja
dan yang disengaja, diantaranya
karena pelaku kurang memahami aturan-aturan
yang ada, perilaku menyimpang
yang disengaja, bukan
karena pelaku tidak mengetahui aturan. Hal yang
relevan untuk memahami
bentuk perilaku tersebut,
adalah mengapa seseorang melakukan
penyimpangan, padahal ia
tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Prilaku
menyimpang yang muncul pada diri remaja bukanlah sesuatu yang instan. Ada
banyak factor yang menyebabkan prilaku itu muncul, baik secara internal (factor
dalam rumah dan psikologi) maupun eksternal (factor lingkungan luar)
a. Faktor Internal
Masa
remaja identik dengan keceriaan, kebingungan, persahabatan, pengenalan diri dan
sebagainya. Tidak jarang bila remaja mudah sekali tersinggung. Karena
remaja lebih cenderung memiliki sifat egosentris. Dalam factor internal
penyebab penyimpangan prilaku remaja, lebih cenderung kepada:
1)
Psikologi Pribadi
Karena
mental remaja yang masih tergolong labil dengan didukung keingintahuan
yang kuat, maka biasanya mereka cenderung melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan akibat yang akan
ditimbulkan.
2)
Keluarga
Rasulullah
bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ
النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ،
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan firah. Maka
bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, atau nasrani, atau majusi (HR. Bukhori).
Orang
tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak dan prilaku
anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan
dari orang tua adalah factor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk
generasi yang baik. Begitupu dengan kerusakan moral pada remaja juga tidak
terlepas dari kondisi dan suasana keluarga. Keadaan keluarga yang carut-marut
dapat memberikan pengaruh yang sangat negatif bagi anak yang sedang/sudah
menginjak masa remaja. Karena, ketika mereka tidak merasakan ketenangan dan
kedamaian dalam lingkungan keluarganya sendiri, mereka akan mencarinya ditempat
lain. Sebagai contoh; pertengkaran antara ayah dan ibu yang terjadi, secara
otomatis akan memberikan pelajaran kekerasan kepada seorang anak. Bukan hanya
itu, kesibukan orang tua yang sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk
mendidik anak adalah juga merupakan faktor penyebab moral anaknya bejat.
b. Faktor Eksternal
1)
Lingkungan
Masyarakat
Kondisi
lingkungan masyarakat juga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter moral generasi
muda. Pertumbuhan remaja tidak akan jauh dari warna lingkungan tempat dia hidup
dan berkembang. Pepatah arab mengatakan “al insan ibnu biatihi”.
Lingkungan yang sudah penuh dengan tindakan-tindakan amoral, secara otomatis
akan melahirkan generasi yang durjana.
2)
Teman
Pergaulan
Perilaku
seseorang tidak akan jauh dari teman pergaulannya. Pepatah arab mengatakan,
yang artinya: ” dekat penjual minyak wangi, akan ikut bau wangi,
sedangkan dekat pandai besi akan ikut bau asap”. Menurut beberapa psikolog,
remaja itu cenderung hidup berkelompok (geng) dan selalu ingin diakui identitas
kelompoknya di mata orang lain. Oleh sebab itu, sikap perilaku yang muncul
diantara mereka itu sulit untuk dilihat perbedaannya. Tidak sedikit para remaja
yang terjerumus ke dunia hitam, karena pengaruh teman pergaulannya. Karena
takut dikucilkan dari kelompok/gengnya, maka seorang remaja cenderung menurut
saja dengan segala tindak-tanduk yang sudah menjadi konsensus anggota geng
tanpa berfikir lagi plus-minusnya.
a.
Dampak
Dampak kenakalan remaja pasti akan
berimbas pada remaja tersebut. Bila tidak segera ditangani, ia akan tumbuh
menjadi sosok dengan bekepribadian
buruk. Remaja yang melakukan kenakalan-kenakalan tertentu pastinya akan
dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Remaja tersebut hanya akan
dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna. Akibat dari
dikucilkannya ia dari pergaulan sekitar, remaja tersebut bisa mengalami gangguan
kejiwaan. Yang
dimaksud gangguan kejiwaan bukan berarti gila, tapi ia akan merasa terkucilkan
dalam hal sosialisai, merasa sangat sedih, atau malah akan membenci orang-orang
sekitarnya.
Tak
sedikit keluarga yang harus menanggung malu. Hal ini
tentu sangat merugikan, dan biasanya anak remaja yang sudah terjebak kenakalan
remaja tidak akan menyadari tentang beban keluarganya. Masa depan
yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para remaja yang melakukan
kenakalan. Bayangkan bila ada seorang remaja yang kemudian terpengaruh
pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan dia tidak akan memiliki masa depan cerah.
Hidupnya akan hancur perlahan dan tidak sempat memperbaikinya.
2.2 ANTISIPATIF DAN SOLUSI PERSPEKTIF ISLAM
Lingkungan memiliki hubungan dengan manusia. Lingkungan
mempengaruhi sikap dan prilaku manusia, demikian pula kehidupan manusia akan
mempengaruhi lingkunga n setempatnya. Hubungan antara lingkungan dan kehidupan
manusia sudah diakui para pemikir dan tokoh dunia sejak dahulu.
Lingkunga
adalah suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari dan memiliki karakter
serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan
makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang mempunyai peran yang
lebih kompleks dan riil.
Telah
disampaikan bahwa terciptanya manusia dimuka bumi ini adalah menjadi kholifah
bagi ummat. Realitanya banyak remaja yang kehilangan jati dirinya, dikarenakan
berbgai macam alasan. Sehingga berdampak sangat fatal,
mulai dari integritas moral samapi
dengan tindak kriminalitas yang mengkhawatirkan. Kegagalan mencapai identitas peran dan
lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan.
Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang
mampu menjadi suri tauladan yang baik. Pastinya yang tidak memiliki
penyimpangan moral. Rasulullah bersabda: “ Innama buitstu li utammima makarima
al-akhlaq”, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq ummat”. Rasulullah merupakan figur terhebat
dalam Islam. Yang memiliki
2.2.1 Cara Islam Mengatur Pergaulan Manusia
Hakikat manusia
menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia
adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Manusia adalah
makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok,
manusia yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash: 77.
Pergaulan secara sehat menurut syariat Islam ialah pergaulan yang diidentifikasikan secara sehat
dan menurut syariat Islam pergaulan ini sangat bagus dan tidak merugikan siapa
pun terutama diri kita sendiri. Karena secara fisik ialah pergaulan yang sangat
luar biasa yang ditanamkan kepada semua umat Islam agar tidak salah pilih
terhadap pergaulan. Banyak keuntungan yang bisa kita rasakan dari
pergaulan sehat.
Islam
telah mengatur perilaku remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan
yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus
diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Perilaku yang
menjadi batasan dalam pergaulan adalah:
a.
Menutup Aurat
Islam
telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat demi menjaga
kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurat merupakan anggota tubuh yang harus
ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya,
terutama kepada lawan jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta tidak
menimbulkan fitnah.
Aurat
laki-laki yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan bagi perempuan
yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Disamping aurat,
pakaian yang dikenakan jug a tidak boleh ketat, transparan atau tipis sehingga
tembus pandang tidak memperlihatkan lekuk tubuh.
Dalam
(QS. An Nur
[24] : 31): "Janganlah
mereka menampakkan perhiasannya selain yang biasa tampak pada dirinya.
Hendaklah mereka menutupkan kerudung (khimar) ke bagian dada mereka"
b.
Menjauhi
Perbuatan Zina
Pergaulan antara laki-laki dengan
perempuan di perbolehkan sampai pada batas tidak membuka peluang terjadinya
perbuatan dosa. Islam adalah agama yang menjaga kesucian. Pergaulan di dalam
Islam adalah pergaulan yang dilandasi oleh nilai-nilai kesucian. Dalam
pergaulan denngan lawan jenis haruslah ada jarak sehingga tidak ada kesempatan
terjadinya kejahatan seksual yang pada akhirnya akan merusak pridasi pelaku
sendiri maupun masyarakat umum. Allah berfirma dalam surat Al-Isra’ ayat 32:
artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya
zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan buruk”
dalam
rangka menjaga kesucian pergaulan remaja agarterhindar dari perbuatan zina,
Islam telah membuat batasan-batasan sebagai berikut:
1) Laki-laki tidak boleh berdua-duaan dengan
perempuan yang bukan mahramnya. Jikalaki-laki dan perempuan di tempat yang sepi
maka yang ketiga adalah syetan.
2) Laki-laki dan
perempuan yang bukan muhrim tidak boleh bersentuhan secara fisik. Saling
besentuhan yang dilarang dalam Islam adalah sentuhan yang disengaja dan
disertai nafsu birahi. Tetapi bersentuhan yang tidak disengaja dan tidak
disertai nafsu.
2.2.2 Etika Pergaulan yang Baik
Semua agama dan tradisi telah mengatur tata cara pergaulan remaja.
Ajaran islam sebagai pedoman hidup ummatnya juga telah mengatur tata cara
pergaulan remaja yang dilandasi nilai-nilai agama. Tata cara itu meliputi:
a. Mengucapkan Salam
Mengucapan salam
ketika bertemu dengan teman atau orang lain
sesama muslim. Ucapan salam merupakan
doa, dengan kata lain kita telah mendoakan orang tersebut.
b. Meminta Izin
Meminta
izi disini berarti tidak boleh meremehkan hak-hak orang lain. Karna setiap hak
yang kita miliki pasti dibatasi juga dengan hak-hak orang sekitar kita.
c. Menghormati Orang yang Lebih Tua dan Menyayangi yang Muda
Remaja sebagai orang yang
lebih muda sebaiknya menghormati yang lebih tua dan bisa mengambil hikmah dari
sejarah kehidupan mereka. Ini semua tidak hanya berlaku untuk orang yang lebih
tua, kepada orang yang lebih muda dari merekapun remaja harus memberi tuntunan
dan bimbingan untuk selalu berada di jalan yang benar.
d.
Bersikap Santun
dan Tidak Sombong
Dalam
bergaul, penekanan prilaku yang baik
sangat dicamkan, agar orang lain bisa merasa nyaman bersama kita.kemudian sikap
dasar remaja yang biasanya ingin terlihat lebih dari temannya. Hal seperti ini
tidak pernah diterapkan dalam Islam. Sesungguhnya allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong.
e. Berbicara dengan Sopan
Islam mengajarkan untuk
bertutur sopan dan lembut, mengutamakan perkataan yang bermanfaat dengan gaya
yang wajar dan tidak bual.
f. Tidak saling Menghina
Adalah sebuah kebiasaan
yang tidak baik untuk remaja pada dewasa ini. Mengumpat hukumnya dilarang dlam
Islam, sehinggadalam pergaulan antar sesama sebaiknya selalu menjaga perkataan.
g.
Tidak Saling
membenci dan Iri Hati
Rasa
iri akan berdampak dan berkembang menjadi kebencian yang pada akhirnya
mengakibatkan putusnya hubungan baik antar sesame. Iri hati merupakan penyakit
hati yang membuat hati kita dapat merasakan ketidaktenangan serta merupakan
sifat tercela baik di hadapan Allah dan manusia.
h.
Mengisi Waktu
luang dengan Kegiatan yang Bermanfaat
Masa
remaja sebaiknya dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Remaja
harus membagi waktunya dengan subjektif dan efesien, dengan cara membagi
waktunya menjadi 3 bagian, yaitu: sepertiga untuk beribadah kepada Allah,
sepertiga untuk dirinya, dan sepertiga terakhir untuk orang lain.
i.
Mengajak Orang
Lain untuk berbuat Kebaikan
Orang
yang memberi petunjuk kepada orang lain menuju jalan kebenaran akan mendapatkan
pahala seperti teman yang melakukan kebaikan itu.
2.2.3 Solusi
Dari
berbagai permasalahan yang terjadi dikalangan remaja masa kini, maka tentunya
ada beberapa solusi yang saya tawarkan dalam pembinaan dan perbaikan remaja
masa kini.
a. Membentuk Lingkungan yang Baik.
Sebagaimana
disebutkan di atas lingkungan merupakan factor terpenting yang mempengaruhi
prilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus
menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul
dengan orang-orang yang sholeh, memilih teman yang dekat dengan sang Khalik dan
masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan, jika hal ini mampu kita
lakuakan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk melakuakan hal yang negative
akan sedikit berkurang.
b. Pembinaan dalam Keluarga.
Sebagaimana disebut diatas bahwa
keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak, jadi untuk
memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga.
Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Mulailah perbaikan dari sikap yang
paling kecil, seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan. Jangan sampai
ada kata-kata bohong, membaca do’a setiap malakukan hal-hal kecil, memberikan
bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa
kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik
tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar.
c.
Sekolah.
Sekolah
adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap
perkembangan remaja, ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sekolah untuk
memulai perbaikan remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan
remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan
sekolah dan lain sebagainya,jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini
maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan
teratasi.
3.
1.4 MANFAAT
Ada 2 manfaat yang dapat kita peroleh:
1)Manfaat umum meliputi:
Dampak Positif
1. Mempermudah komunikasi.
2. Menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi.
3. Memperluas jaringan persahabatan.
Dampak Negatif :
1. Mengganggu Perkembangan Anak :
Dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di hand phone (HP) seperti : kamera, permainan (games) akan mengganggu siswa dalam menerima pelajaran di sekolah? Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan HP untuk mencontek (curang) dalam ulangan. Bermain game saat guru menjelaskan pelajaran dan sebagainya. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi.
2. Efek radiasi
Selain berbagai kontroversi di seputar dampak negatif penggunaannya,. penggunaan HP juga berakibat buruk terhadap kesehatan, ada baiknya siswa lebih hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan atau memilih HP, khususnya bagi pelajar anak-anak. Jika memang tidak terlalu diperlukan, sebaiknya anak-anak jangan dulu diberi kesempatan menggunakan HP secara permanen.
3. Rawan terhadap tindak kejahatan.
Ingat, pelajar merupakan salah satu target utama dari pada penjahat.
4. Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku siswa.
Jika tidak ada kontrol dari guru dan orang tua. HP bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar.
5. Pemborosan
Dengan mempunyai HP, maka pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau HP hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan yang saja.
2)Manfaat khusus meliputi:
1. Mempermudah komunikasi
2. Mengetahui perkembangan teknologi
Ada 2 manfaat yang dapat kita peroleh:
1)Manfaat umum meliputi:
Dampak Positif
1. Mempermudah komunikasi.
2. Menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi.
3. Memperluas jaringan persahabatan.
Dampak Negatif :
1. Mengganggu Perkembangan Anak :
Dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di hand phone (HP) seperti : kamera, permainan (games) akan mengganggu siswa dalam menerima pelajaran di sekolah? Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan HP untuk mencontek (curang) dalam ulangan. Bermain game saat guru menjelaskan pelajaran dan sebagainya. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi.
2. Efek radiasi
Selain berbagai kontroversi di seputar dampak negatif penggunaannya,. penggunaan HP juga berakibat buruk terhadap kesehatan, ada baiknya siswa lebih hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan atau memilih HP, khususnya bagi pelajar anak-anak. Jika memang tidak terlalu diperlukan, sebaiknya anak-anak jangan dulu diberi kesempatan menggunakan HP secara permanen.
3. Rawan terhadap tindak kejahatan.
Ingat, pelajar merupakan salah satu target utama dari pada penjahat.
4. Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku siswa.
Jika tidak ada kontrol dari guru dan orang tua. HP bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar.
5. Pemborosan
Dengan mempunyai HP, maka pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau HP hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan yang saja.
2)Manfaat khusus meliputi:
1. Mempermudah komunikasi
2. Mengetahui perkembangan teknologi
b. Dampak Teknologi Informasi Bagi
Pendidikan
1. Malas belajar dan
mengerjakan tugas
Penggunaaan komputer juga
menimbulkan dampak negatif dalam dunia pendidikan. Seseorang terutama anak-anak
yang terbiasa menggunakan komputer, cenderung menjadi malas karena mereka
menjadi lebih tertarik untuk bermain komputer dari pada mengerjakan tugas atau
belajar.
Solusi :
Solusi untuk meminimalisasi dampak
negatif tersebut yaitu dengan memaksimalkan peran serta orang tua dalam
memberikan perhatian, pengertian dan membimbing anak-anak dalam belajar dan
bermain. Sehingga bila anak-anak dirasa sudah berlebihan dalam menggunakan
komputer orang tua bisa segera membatasi dan mencegah terjadinya
ketergantungan.
2. Perubahan Tulisan Tangan
Dengan kemudahan dan kepraktian yang
diberikan oleh komputer, terutama dalam hal menuliskan suatu text, membuat
seseorang cenderung memilih untuk mengetik daripada harus menulis secara
manual. Akibatnya, lama kelamaan seseorang akan mengalami
perubahan tulisan, dari yang dulunya
rapih, sampai akhirnya menjadi tulisan yang berantakan dan sulit dibaca, Hal
tersebut karena mereka tidak lagi terbiasa untuk menulis secara manual.
Solusi :
Solusi untuk meminimalisasi dampak
negatif tersebut yaitu dengan menyeimbangkan antara penggunaan tulisan manual
dengan mengetik di komputer. Cobalah untuk tidak hanya mengandalkan komputer
untuk membuat suatu text, karena perlu disadari bahwa tidak selamanya kita
dapat mengandalkan teknologi. Teknologi hanyalah seperangkat alat yang bisa
saja tiba-tiba terjadi kerusakan ataupun error, yang dimana pada saat itu kita
tidak dapat lagi mengandalkannya, sehingga kita juga harus dapat menyeimbangkan
antara penggunaan secara manual dengan penggunaan teknologi.
E. KESIMPULAN
Semua hasil pengembangan IPTEK
khususnya dibidang teknologi informasi tersebut telah mampu mengatasi sebagian
besar masalah manusia dalam berbagai macam kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup.
Di zaman yang modern ini semua serba instan, cepat dan tepat. Walaupun
demikian, penyalahgunaan IPTEK juga sering dilakukan oleh manusia yang tidak
bertanggung jawab dalam kegiatan kejahatan, dan bahkan merusak diri sendiri dan
sesama. Sebagai makhluk yang berakal budi, maka kita seharusnya mensyukuri dan
memanfaatkan perkembangan teknologi informasi ini untuk menjadikan hidup kita
ke arah yang lebih baik,
1. Dampak
Positif Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK
)
Pemanfaatan TIK, akan mengatasi
masalah sebagai berikut:
a.
Masalah
geografis, waktu dan sosial ekonomis Indonesia.
b.
Negara
Republik Indonesia
merupakan Negara kepulauan, daerah tropis dan pegunungan hal ini akan
mempengaruhi terhadap pengembangan infrastruktur pendidikan sehingga dapat
menyebabkan distribusi informasi merata.
c.
Mengurangi
ketertinggalan dalam pemanfaatan TIK dalam pendidikan dibandingkan dengan
negara berkembang dan negara maju lainnya.
d.
Akselerasi
pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan mutu pendidikan yang sulit
diatasi dengan cara-cara konvensional.
e.
Peningkatan
kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan dan pendayagunaan teknologi
informasi dan komunikasi.
f.
Anak-anak dapat menggunakan
perangkat lunak pendidikan seperti program-program pengetahuan dasar membaca,
berhitung, sejarah, geografi, dan sebagainya. Tambahan pula, kini perangkat
pendidikan ini kini juga diramu dengan unsur hiburan (entertainment) yang
sesuai dengan materi, sehingga anak semakin suka.
g.
Membuat anak semakin
tertarik untuk belajar.
h.
Dapat menjadi solusi bagi
para orangtua yang memiliki anak yang merasa mudah bosan untuk belajar.
i.
Dapat menambah wawasan.
j.
Media pertukaran data,
dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan
situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar
informasi dengan cepat dan murah.
k.
Kemudahan bertransaksi dan
berbisnis dalam bidang perdagangan sehingga tidak perlu pergi menuju ke tempat
penawaran/penjualan
2. Dampak
Negatif TIK terhadap pendidikan
a.
Pengalih fungsian guru yang,
karena sistem pembelajaran dapat dilakukan dengan hanya seorang diri, dan
kemungkinan etika dan disiplin peserta didik susah atau sulit untuk diawasi dan
dibina sehungga lambat laun kualitas etika dan manusia khusunya para peserta
didik akan menurun drastis, serta hakikat manusia yang utama yaitu sebagai
makhluk sosial akan musnah.
b.
Ketergantungan terhadap
Teknologi Informasi dan Komunikasi.
c.
Kecanduan terhadap games,
terutama games online menonjolkan unsur-unsur seperti kekerasan dan agresivitas,
sehingga dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan
tersebut.
d.
Penipuan, Hal ini memang
merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu.
Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi
informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.
e.
Violence and Gore yaitu
Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi
pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala
macam cara agar dapat ‘menjual’ situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan
hal-hal yang bersifat tabu
f.
Mengurangi sifat sosial
manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu
secara langsung (face to face).
g.
Bukanya benar-benar
memanfaatkan TIK dengan optimal malah mengakses hal-hal yang tidak baik,
seperti pornografi yang sangat mudah di akses yang berefek buruk bagi anak
dibawah umur ataupun bagi yang sudah dewasa sekalipun.
h.
Membuat seseorang
kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang
karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut.
i.
Carding, Karena sifatnya
yang ‘real time’ (langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit
adalah carayang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para
penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini.
Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi
(yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan.
Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk
kepentingan kejahatan mereka.
j.
Perjudian dengan jaringan
yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi
keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya
situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari
pengunjungnya.
k.
Health Issues ( Issue
Kesehatan ), penggunaan BTS dan Elektromagnetis yang dapat
mengganggu kesehatan pengguna dan dapat menyebabkan banyak penyakit
seperti persendian, kanker dan lain – lain
l.
Impact on Globalization on
Culture, makin menipisnya nilai - nilai budaya lokal akibat pengaruh
globalisasi. Salah satu contohsederhananya yaitu seberapa baikkah
kemampuan bahasa daerah kita dibandingkan dengan bahasa asing
3.
Pemecahan Masalah dan Solusi dalam mengatasi dampak negatif TIK
Agar penggunaan TIK lebih optimal dan di jalankan dengan
baik dan benar, berikut ada beberapa metode pemecahan masalah agar dampak
negatif dari TIK dapat tertanggulangi.
a.
Mempertimbangkan pemakaian
TIK dalam pendidikan, khususnya untuk anak di bawah umur yang masih harus dalam
pengawasan ketika sedang melakukan pembelajaran dengan TIK. Analisis untung
ruginya pemakaian.
b.
Tidak menjadikan TIK
sebagai media atau sarana satu-satunya dalam pembelajaran, misalnya kita tidak
hanya mendownload e-book, tetapi masih tetap membeli buku-buku cetak, tidak
hanya berkunjung ke digital library, namun juga masih berkunjung ke
perpustakaan.
c.
Pihak-pihak pengajar baik
orang tua maupun guru, memberikan pengajaran-pengajaran etika dalam ber-TIK
agar TIK dapat dipergunakan secara optimal tanpa menghilangkan etika.
d.
Perlu ada kesadaran peran
dan kerjasama antara seluruh pengguna lanyanan TIK.
e.
Menggunakan software yang
dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak. Misalnya saja program nany
chip atau parents lock yang dapat memproteksi anak dengan mengunci segala akses
yang berbau seks dan kekerasan.
f.
letakkan komputer di ruang
publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar
anak. Meletakkan komputer di dalam kamar anak, menurut Nina akan mempersulit
orangtua dalam hal pengawasan. Anak bisa leluasa mengakses situs porno atau
menggunakan games yang berbau kekerasaan dan sadistis di dalam kamar terkunci.
Bila komputer berada di ruang keluarga, keleluasaannya untuk melanggar aturan
pun akan terbatas karena ada anggota keluarga yang lalu lalang.
g.
Untuk mencegah kecanduan
orang tua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain komputer.
Sehingga pada usia yang lebih besar, diharapkan anak sudah dapat lebih mampu
mengatur waktu dengan baik.
h.
Pemerintah sebagai
pengendali sistem-sistem informasi seharusnya lebih peka dan menyaring apa-apa
saja yang dapat di akses oleh para pelajar dan seluruh rakyat Indonesia di dunia maya. Selebihnya,
Kementrian juga bisa menyebarkan filter berupa program software untuk menekan
dampak buruk teknologi informasi. Kedua, perlu adanya dukungan dari orangtua,
tokoh budaya hingga kalangan agamawan, untuk mensosialisasikan tentang saran,
manfaat dan sisi positif facebook.
Jadi, solusinya adalah kita jangan sampai mengatakan tidak
pada teknologi (say no to technology) karena jika kita berbuat demikian, maka
kita akan ketinggalan banyak informasi yang sekarang ini informasi-informasi
tersebut paling banyak ada di internet. Kita harus mempertimbangkan kebutuhan
kita terhadap teknologi, mempertimbangkan baik-buruknya teknologi tersebut dan
tetap menggunakan etika, juga tidak lupa jangan terlalu berlebihan agar kita
tidak kecanduan denagn teknologi.






0 komentar:
Posting Komentar