This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 10 Desember 2012

Tugas Psikologi Dikaitkan Dengan Pendidikan Islam



no 1.Kaitan Psikologi Agama dengan Pendidikan Islam

Hubungan psikologi agama dan pendidikan Islam sangat terkait dengan tujuan pendidikan yakni menanamkan nilai kebaikan dan keadilan dalam diri seseorang. menurut Menurut Quraish Shihab, tujuan pendidikan al Qur`an (Islam) adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Atau dengan kata yang lebih singkat dan sering digunakan oleh al Qur`an, untuk bertaqwa kepada -Nya.
Pendidikan Islam sangat erat kaitannya dengan psikologi agama, bahkan psikologi agama digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan islam. Perkembangan agama pada masa anak, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil, dalam keluarga, disekolah dan dalam lingkungan masyarakat. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama (sesuai dengan ajaran agama) dan semakin banyak unsur agama, maka sikap, tindakan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama.
Rasulullah saw pernah menerapkan kaedah yaitu memperhatikan kondisi psikologis dan bertahap dalam mengajar. Jadi proses belajar mengajarnya didsarkan pada hal tersebut. Pengajar yang dilakukan oleh beliau teratur dan sesuai dengan prinsip tahapan dan kemudahan, sehingga proses belajar mngajar dapat berlangsung tanpa ada kebosanan dan sesaut yang memberatkan bagi orang-orang yang belajar. Dalam hal ini, Abdullah bin Mas’ud berkata “ Rasulullah saw mengosongkan memberikan nasehat kepad akami beberap hari untuk menghindari kebosanan”. Dengan kata lain, Nabi saw menetapkan hari-hari tertentu untuk mengajar mereka. Beliau memilih dan memperhatikan waktu-waktu yang tepat sehingga mereka semangat dan tidak melakukan sesuatu yang membosangkan bagi muri-muridnya. (Muhammad Fathi. 2009:44)
Untuk mencapai keberhasilan itu seorang pendidik perlu memperhatikan perkembangan keberagamaan seseorang. Pendidikan tanpa agama akan pincang, yaitu terjadi ketidak seimbangan antara moralitas dengan pengetahuan yang dimilikinya. Seperti dicontohkan ada anak yang menguasai teknologi komputer karena tidak dibarengi oleh jiwa keagamaan maka pengetahuannya dipakai mencuri uang di bank. Sebaliknya pengetahuan keagamaan tanpa dibarengi manajemen pendidikan yang baik maka akan percuma. Pendidikan dinilai punya peran penting dalam menanamkan rasa keagamaan pada seseorang. Pembinaan moral terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan pembiasaan yang diperoleh sejak kecil. Kebiasaan itu tertanam berangsur sesuai dengan kecerdasan seseorang.
http://abinafiah.blogspot.com/2009/12/psikologi-agama.html


 

 

 

PSIKOLOGIS DALAM STUDI ISLAM

PENDEKATAN PSIKOLOGIS DALAM STUDI ISLAM

A.     Latar Belakang
Psikologi sebagai ilmu terapan berkembang sejalan dengan kegunaannya. Psikologi yang diakui sebagai disiplin yang mandiri sejak tahun 1879 ini ternyata telah memperlihatkan berbagai sumbangannya dalam berbagai problema dan menguak misteri hidup manusia serta mengupayakan peningkatan sumber daya manusia (Djamaludin Anlok, 1994:1). Kajian-kajian yang khusus mengenai agama melalui pendekatan psikologis ini sejak awal abad ke-19 menjadi kian berkembang, sehingga para ahli psikologi yang bersangkutan melalui karya mereka telah membuka lapangan baru dalam kajian psikologi, psikologi agama.
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada hubungannya dengan keyakinan beragama. Psikologi agama mencakup dua bidang kajian yang berbeda, yaitu psikologi dan agama. Walaupun, psikologi dan agama mencakup masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia, namun dari sisi tertentu terdapat perbedaan di antara keduanya. Masalah kejiwaan dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia, bagaimanapun mungkin untuk dikaji secara empiris oleh ilmu pengetahuan profan. Sebaliknya masalah agama yang berhubungan dengan keyakinan dianggap memiliki nilai-nilai sakral. Mengkaji agama dengan menggunakan ilmu pengetahuan profan, cenderung dianggap sebagai merendahkan nilai-nilai suci yang ada pada agama sebagai ajaran yang bersumber pada wahyu Ilahi.
Titik pandang yang berbeda ini menimbulkan persepsi yang cukup sulit untuk dipertemukan. Usaha untuk mempelajari agama melalui pendekatan psikologi, bukanlah merupakan usaha yang dapat diterima begitu saja. Baik para ilmuwan yang berkecimpung di bidang ilmu agama maupun di bidang psikologi menolak usaha ini. Terlepas dari sikap pro dan kontra, kenyataan menunjukkan bahwa agama mempengaruhi sikap dan tingkah laku pemeluknya. Sikap dan tingkah laku yang berhubungan dengan keyakinan tersebut dapat diamati secara empiris. Apa yang ditampilkan seorang penganut yang taat, bagaimanapun berbeda dari sikap dan tingkah laku mereka yang kurang taat beragama. Di sini terlihat bahwa dari sudut pandang psikologi, agama dapat berfungsi sebagai pendorong atau penengah bagi tindakan-tindakan tertentu, sesuai dengan keyakinan yang dianut seseorang. Dari sudut pandang ini maka dapat terungkap bahwa pemahaman mengenai keyakinan seseorang dalam kaitan dengan agama yang dianutnya dapat dilakukan melalui pendekatan psikologi.
Manusia menurut terminology Al-Qur’an dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Manusia disebut al-basyar berdasarkan pendekatan aspek biologinya. Al-insan dilihat dari fungsi dan potensi yang dimilikinya, sebagai khalifah dan mengembangkan ilmu. Kemudian manusia disebut al-nas yang umumnya dilihat dari sudut pandang hubungan sosial yang dilakukannya. Dalam bentuk pengertian umum, Al-Qur’an menyebut manusia sebagai Bani Adam. Selanjutnya, manusia menurut pandangan Islam juga dipandang sebagai makhluk psikis, menurut konsep Islam senantiasa dihubungkan dengan nilai-nilai agama.
B.     Sejarah Ilmu Psikologi
Pada zaman sebelum Masehi, jiwa manusia sudah menjadi topik pembahasan para filsuf. Saat itu, para Filsuf sudah membicarakan aspek-aspek kejiwaan manusia dan mereka mencari dalil, pengertian, serta pelbagai aksioma umum, yang berlaku pada manusia. Ketika itu, psikologi memang sangat dipengaruhi oleh cara-cara berpikir filsafat dan terpengaruh oleh filsafatnya sendiri. Hal tersebut dimungkinkan karena para ahli psikologi pada masa itu adalah juga ahli-ahli filsafat atau para ahli filsafat waktu itu juga ahli psikologi. Sebelum tahun 1879, jiwa dipelajari oleh para filsuf dan para ahli ilmu faal (fisiologi), sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari kedua ilmu tersebut. Selain pengaruh dari ilmu faal, psikologi juga dipengaruhi oleh satu hal yang tidak sepenuhnya berhubungan dengan ilmu faal, meskipun masih erat hubungannya dengan ilmu kedokteran, yaitu hipnotisme.
Psikologi, dikukuhkan sebagai ilmu yang berdiri sendiri oleh Wilhelm Wundt dengan didirikannya Laboratorium Psikologi pertama di dunia, di Leipzig, pada tahun 1879. Sebelumnya, bibit-bibit psikologi sosial mulai tumbuh, yaitu ketika Lazarus & Steindhal pada tahun 1860 mempelajari bahasa, tradisi, dan institusi masyarakat untuk menemukan "jiwa umat manusia" (human mind) yang berbeda dari "jiwa individual".
Yang diteliti dalam laboratorium psikologi tersebut, terutama mengenai gejala pengamatan dan tanggapan manusia, seperti persepsi, reproduksi, ingatan, asosiasi, dan fantasi. Tampak benar bahwa tokoh-tokoh psikologi eksperimental ini terutama meneliti gejala-gejala yang termasuk Bewusztseinpsychologie, atau gejala-gejala psikis yang berlangsung di dalam jiwa yang sadar bagi diri manusia itu, sesuai dengan rumusan Descartes mengenai jiwa, yaitu bahwa ilmu jiwa (psikologi) adalah ilmu pengetahuan mengenai gejala-gejala kesadaran manusia. Gejala-gejala jiwa "bawah sadar" belum diperhatikannya.
Beberapa penemuan penting dari Helmholtz yang perlu dicatat adalah Tahun 1850, ia menghitung kecepatan jalannya impuls; tahun 1856, ia mengemukakan bahwa semua warna sebenarnya berasal dari tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru; tahun 1863, ia mengemukakan bahwa perbedaan suara yang dapat kita dengar disebabkan adanya reseptor pada telinga bagian dalam (cochlea atau rumah siput), dan reseptor ini disebut membrana basillaris. Selain itu, ia juga banyak menyelidiki tentang pengamatan, kemudian ia mengemukakan suatu doktrin yang disebut unconscious inference atau unbewusster suhluse, yaitu penyimpulan terhadap suatu rangsang dipengaruhi oleh adanya; faktor-faktor yang tidak disadari. Apa yang masuk dalam pengamatan kita, kadang-kadang hanya samar atau mungkin hanya sebagian saja yang mastik dalam lapangan pengamatan kita. Meskipun demikian, kita dapat mangamati rangsang itu dengan jelas ataupun mengamati objek secara keseluruhan.
C.     Pengertian Psikologi Agama
Psikologi agama terdiri dari dua kata, yaitu psikologi dan agama. Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “psyche”, yang berarti jiwa dan kata ‘logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi secara harfiah psikologi diartikan dengan ilmu jiwa. Psikologi secara istilah adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya.
Lahey memberikan definisi “psychology is the scientific study of behavior and mental processes” ( psikologi adalah kajian ilmiah tentang tingkah laku dan proses mental). Tingkah laku adalah segala sesuatu / kegiatan yang dapat diamati, sedangkan proses mental didalamnya mencakup pikiran, perasaan juga motivasi. Jadi singkatnya psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan yang berada di belakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin di lihat dari gejala yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya.
Zakiah Daradjat memberikan definisi psikologi agama adalah meneliti dan menalaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Disamping itu, psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut.
Memang diakui bahwa untuk mengemukakan definisi secara tegas mengenai psikologi agama agak sulit, karena selain disiplin ilmu ini mencakup bidang kajian yang berlainan. Baik psikologi maupun agama merupakan persoalan yang abstrak. Terlebih lagi masalah yang menyangkut agama, sukar untuk didefinisikan secara jelas dan dapat disetujui semua pihak. Apalagi agama menyangkut kehidupan batin yang paling mendalam dan peka. Selain pengalaman agama bersifat individual dan subjektif, sehingga setiap orang memiliki penghayatan yang berbeda-beda.
Dalam kajian psikologi agama, persoalan agama tidak ditinjau dari makna yang terkandung dalam pengertian yang bersifat definitif. Pengertian agama dalam kajian dimaksud lebih umum, yaitu mengenai proses kejiwaan terhadap terhadap agama serta pengaruhnya dalam kehidupan pada umumnya. Melalui pengertian umum seperti itu, paling tidak akan dapat diamati fungsi dan peranan keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap sebagai agama kepada sikap dan tingkah laku lahir dan batin seseorang. Dengan kata lain, bagaimana pengaruh keberagamaan terhadap proses dan kehidupan kejiwaan sehingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku lahir ( sikap dan tindakan serta cara bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku batin ( cara berfikir, merasa atau sikap emosi).
Selain psikologi agama, muncul pula psikologi yang lebih spesifik kepada Islam dengan nama psikologi Islam. Psikologi Islam ini didefinisikan sebagai kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan prilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hakikat definisi tersebut mengandung tiga unsur pokok: pertama, bahwa psikologi Islam merupakan salah satu kajian dari masalah-masalah keislaman. Kedua, bahwa psikologi Islam mengkaji aspek-aspek dan prilaku kejiwaan manusia, tidak hanya menekankan prilaku kejiwaan saja tetapi juga apa hakikat jiwa sesungguhnya. Ketiga, bahwa psikologi Islam bukan netral etik, melainkan sarat akan nilai etik.
Terlepas dari adanya perbedaan paradigma antara psikologi agama secara umum dengan psikologi Islam, dapat disimpulkan bahwa cabang ilmu ini mempunyai objek kajian tentang jiwa dan segala yang berkaitan dengannya, di samping itu psikologi ini juga meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya.
D. Aliran-Aliran Dalam Psikologi
1.      Strukturalisme (Structuralism)
Struktur adalah sebuah bangunan yang terdiri atas berbagai unsur yang satu sama lain berkaitan. Dengan demikian, setiap perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur akan mengakibatkan perubahan hubungan antarunsur tersebut. Jadi, hubungan antarunsur akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau hilang. Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri, psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal, melalui penelitian laboratorium dengan menggunakan metode introspeksi.
2.      Aliran Fungsionalisme (Functional Psychology)
Aliran psikologi ini merupakan reaksi terhadap strukturalisme.tentang keadaan-keadaan mental. Jika para strukturalis bertanya "Apa kesadaran itu", para fungsionalis bertanya "Untuk apa kesadaran itu". Apa tujuan dan fungsinya? Karena ingin mempelajari cara orang menggunakan pengalaman mental untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar, mereka disebut fungsionalis.
Fungsionalisme adalah suatu tendensi dalam psikologi yang menyatakan bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis Drever (1988 menyebut fungsionalisme (functional Psychology) sebagai suatu jenis psikologi yang menggarisbawahi fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan organisme itu, dan bukan menggambarkan atau menganalisis fakta-fakta pengalaman atau kelakuan; atau suatu psikologi yang mendekati masalah pokok dari sudut pandang yang dinamis, dan bukan dari sudut pandang statis.
3.      Aliran Psikoanalisis
Lahirnya aliran psikoanalisis dalam dunia psikologi oleh para ahli psikologi sering dianalogikan dengan revolusi Convernican dalam natural science; dicaci, ditolak, tapi pada akhirnya diagungkan. Sistem kepribadian yang ketiga Super-Ego - berisi kata hati atau conscience. Kata hati ini berhubungan dengan lingkungan sosial dan mempunyai nilai-nilai moral, sehingga merupakan kontrol atau sensor terhadap dorongan-dorongan yang datang dari Id. Super-Ego menghendaki agar dorongan-dorongan tertentu saja dari Id yang direalisasikan; sedangkan dorongan-dorongan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral, tetap tidak dipenuhi.
Karena itu, ada semacam kontradiksi antara Id dan Super Ego yang harus dapat memenuhi tuntunan kedua sistem kepribadian lainnya ini secara seimbang. Kalau Ego gagal menjaga keseimbangan antara dorongan dari Id dan larangan-larangan dari Super Ego, individu yang bersangkutan akan menderita konflik batin yang terus-menerus; dan konflik ini akan menjadi dasar dari neurose.
4.      Aliran Psikologi Gestalt (Gestalt Psychology)
Eksperimen Gestalt pertama, menurut Atkinson clan kawan-kawan, adalah mempelajari gerakan, terutama fenomena phi. Jika dua cahaya dinyalakan secara berurutan (asalkan waktu dan lokasi spasialnya tepat), subjek melihat cahaya tunggal bergerak dari posisi cahaya pertama ke cahaya kedua. Fenomena kesan pergerakan ini telah banyak diketahui, tetapi ahli psikologi Gestalt menangkap kepentingan teoretis pola stimuli dalam menghasilkan efek. Pengalaman kita bergantung pada pola yang dibentuk oleh stimuli dan pada organisasi pengalaman, menurut mereka. Apa yang kita lihat adalah relatif terhadap latar belakang, dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruhan berbeda dengan penjumlahan bagian-bagiannya; keseluruhan terbagi atas bagian dari suatu hubungan.

5.      Aliran Behaviorisme (Behaviorism)
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, kaum behavioris lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Tentu saja, behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional, behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.
6.      Aliran Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif adalah pendekatan psikologi yang memusatkan perhatian pada cara kita merasakan, mengolah, menyimpan, dan merespons informasi. Pendekatan kognitif dapat diterapkan pada hampir semua bidang psikologi. Pada bagian terakhir bab ini, kita akan melihat dua contoh pendekatan kognitif. Psikologi kognitif termasuk bidang studi utama yang berdiri sendiri dan sebagian besar isi bab ini disediakan untuk itu.
7.      Aliran Psikologi Humanistik
Tujuan psikologi humanistik adalah membantu manusia memutuskan apa yang dikehendakinya dan membantu memenuhi potensinya. Artinya, praktek humanistik dalam terapi, pendidikan atau di tempat kerja, selalu dipusatkan untuk menciptakan kondisi-kondisi agar manusia dapat menentukan pikiran dan mengikuti tujuannya sendiri. Manusia dimotivasi oleh adanya keinginan untuk berkembang dan memenuhi potensinya.
Manusia bisa memilih ingin menjadi seperti apa, dan tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Kita semua bisa memutuskan bagaimana cara kita menjalani hidup. Penekanan pada kehendak bebas (free will) ini sangat berlawanan dengan pendekatan perilaku dan psikodinamika yang lebih menekankan pada apa yang menyebabkan kita berperilaku demikian (ini disebut determinisme).
D.    Pengkajian Psikologi Dalam Studi Islam
Dalam konteks studi islam, ada dua tipe pendekatan terhadap psikologi islami yaitu: Mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan psikologi dalam hubungannya dengan islam adalah konsep psikologi modern yang telah kita kenal selama ini yang telah mengalami proses filterisasi dan di dalamnya terdapat wawasan islam. Jadi, konsep-konsep atau teori aliran-aliran psikologi modern kita terima secara kritis, menurut pandangan ini, tugas kita adalah membuang konsep-konsep yang kontra atau yang anti terhadap islam.
Mereka berpandangan bahwa psikologi modern yang ada dan yang kita kenal pada selama ini bisa sja kita sebut Islami asalkan sesuai dengan pandangan islam. Salah satu aliran psikologi yang termasuk Islami adalah psikologi Humanistik. Seorang pemikir psikologi Islam berpandangan bahwa teori-teori Psikologi barat dapat kita manfaatkan dan dapat disebut psikologi Islami asalkan praktiknya berwawasan Islam. Ia mengungkapkan bahwa konsep tentang struktur kepribadian manusa yang dibangun oleh tokoh-tokoh modern seperti alam sadar, pra sadar dan tak sadar (psikoanalisis), afeksi, konasi & kognisi (Behavior) serta dimensi somatis, psikis dan neotik (Humanistik) dll, dapat kita pandang sebagai Islam setelah semua unsur dalam struktur kepribadian tersebut di ungkap dalam konsep ruh.
Dengan penekanannya pada pengembangan pribadi dan pentingnya pengalaman hidup individu di dunia, tradisi humanistik tergolong unik karena inilah satu-satunya pendekatan psikologi yang cocok dengan gagasan spiritualitas. Walaupun tidak semua pandangan ahli psikologi bersifat spiritual atau religius, walaupun Anda tidak harus menjadi seorang yang religius atau spiritual untuk menerapkan atau menarik manfaat dari psikologi humanistik, namun ada keterkaitan yang kuat antara pendekatan ini dengan keagamaan.
Berdasarkan penjabaran di atas, psikologi Islam di artikan sebagai perspektif modern dengan membuang konsep-konsep yang tidak sesuai dengan Islam. Psikologi adalah disiplin Ilmu yang sekuler dan karenanya memberikan wawasan Islam terhadap konsep psikologi modern adalah suatu cara agar konsep-konsep yang dipakai mengalami filterisasi dan tidak menyesatkan. Salah satu hal dalam psikologi yang berkaitan dengan dunia Islam sebagai berikut dalam Firman Allah (QS 41: 31), “ kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri”. Ayat ini hendak mengungkapkan bahwa di alam semesta ini maupun dalam diri manusia terdapat sesuatu yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan Allah. Yang di maksud dengan “sesuatu” tersebut adalah rahasia-rahasia tentang keadaan alam dan keadaan manusia, maka jadilah manusia sebagai makhluk yang berpengetahuan dan berilmu.
Dalam hal ini bisa kita lihat lebih dalam bahwa manusia memiliki peranan penting dalam Al-qur’an, kalau diperhatikan lebih cermat, salah satu istilah yang berkenaan dengan manusia yaitu nafs yang di sebut ratusan kali, belum lagi al-naas, al basyar, dan al-insaan. Istilah tersebut menunjukkan betapa Alqur’an banyak sekali berbicara tentang manusia. Secara kompleksitas, dan bisa dijadikan lahan kajian, dalam Al-qur’an banyak yg berbicara tentang diri manusia yang berkaitan dengan psikologi seperti, Nafs, Ruh, Aql, Qolb, Fitrah, Akhlak dsb. Jiwa atau Nafs bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia merupakan satu kesatuan dengan keadaan badan. Antara jiwa dan badan muncul suatu kesinambungan yang mencerminkan adanya totalitas dan unitas.
Secara garis besar, psikologi juga banyak kaitannya dengan agama, menurut Jalaludin dalam bukunya Psikologi Agama, psikologi agama merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Menurut Prof Zakiyah Drajat, menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan (terhadap suatu agama yang di anut). Dalam hal ini bisa dikaitkan denga teori humanistik bahwasanya manusia adalah makhluk yang positif, manusia bisa memilih ingin menjadi seperti apa, dan tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Dalam hal ini manusia bisa memilih akan menjalankan agama yang dianut seperti apa, mengikuti perasaan hati dan kesadaran atas apa yang dia kerjakan.
Seperti penjabaran di atas, hasil kajan psikologi juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehdupan seperti kehidupan, seperti bidang pendidikan, interaksi sosial, perkembangan manusia dan lain sebagainya. Dalam bidang pendidikan di sini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagai hakikat kejadiannya. Jadi dalam pengertian pendidikan Islam ini tidak hanya dibatasi oleh institusi atau lapangan pendidikan tertentu, pendidikan Islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas. Salah satu contohnya pendidikan dalam keluarga, pendidikan pertama pada anak adalah keluarga, dari keluarga anak belajar banyak hal seperti sopan-santun, belajar mengenal agama sampai pada tolerasi dan kasih sayang. Karena ibaranya keluarga merupakan lingkungan kecil yang membentuk suatu karakter pada diri anak. Oleh sebab itu diharapka orang tua sebagai pendidik sekaligus modelling bagi anak, dapat memberikan contoh yang baik, karena pada dasarnya anak belajar dari apa yang dia lihat, apa yang dia model, hal ini kaitannya dengan psikologi perilaku (behavior)
E.     Contoh-Contoh Studi Islam Dengan Pendekatan Psikologi Agama
Pendekatan psikologi agama dapat di lihat contohnya dalam studi Islam. Adapun contoh psikologi agama yang digunakan dalam kajian Islam dan umat Islam dapat dilihat dalam ritual manusia dalam agama yang diyakininya. diantaranya, tentang perasaan seorang ahli tasawuf terhadap Allah, yang mana dia merasa Allah selalu hadir dalam hatinya dan dia juga selalu membiasakan lisannya untuk berzikir kepada Allah yang dilakukannya secara terus menerus dan secara sadar maka akan melekatlah di dalam hatinya dan akan menimbulkan ketentraman jiwa.
Seorang muslim yang hatinya selalu merasa tenang, bahagia, suka menolong orang lain, walaupun kehidupannya sangat sederhana. Tengah malam ia bangun untuk mengabdi pada Allah dan waktu subuh sebelum semua orang terbangun, dia telah duduk pula di tikar sholatnya, sebaliknya ada orang muslim yang cukup kaya dan banyak hartanya, namun hatinya penuh kegoncangan, tidak pernah merasa puas, di rumah tangganya selalu bertengkar. Hal ini jelas menunjukkan seberapa besar pengaruh agama dalam kehidupannya.
Begitu juga yang dapat dirasakan oleh orang biasa, seperti perasaan lega, tenang, sehabis shalat dan setelah selesai membaca al-Qur’an dan berdoa. Dan sikap seorang muslim ketika memasuki mesjid akan menunjukkan sikap hormat, dari pada orang yang menganut keyakinan lain. Sikap demikian juga akan dijumpai pada penganut agama lain saat memasuki rumah ibadahnya masing-masing. Bagi setiap penganut agama, rumah ibadah memberi pengalaman batin tersendiri yang menimbulkan reaksi terhadap tingkah laku masing-masing sesuai dengan keyakinan mereka. Seorang muslim mengucapkan salam ketika berjumpa dengan muslim lainnya, hormat kepada orang tua, menutup aurat, rela berkorban untuk kebenaran dan sebagainya adalah merupakan gejala-gejala keagamaan yang dapat dijelaskan dengan pendekatan psikologi agama.
Berapa banyak orang muslim yang berubah jalan hidupnya dan keyakinannya dalam waktu yang singkat, seperti dari seorang yang taat beribadah berubah menjadi orang yang lalai dan menentang agama, dari yang beragama Islam menjadi non Islam. Seorang muslim yang keluar dari Islam (murtad), banyak faktor yang mempengaruhinya. Untuk mengetahui faktor-faktor tersebut maka jawabannya dapat dilihat dari pendekatan psikologi. Adapun yang ingin di jawab pendekatan psikologi adalah faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan seorang murtad, karena menurut psikologi agama ada dua faktor yang menyebabkan seorang murtad, yaitu faktor Intern (dalam diri) dan faktor Ekstren (faktor luar diri).
Faktor Intern (dalam diri) yang bisa mempengaruhi seseorang murtad adalah dari kepribadiannya. Secara psikologi tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi jiwa seseorang. Dalam penelitian William James, ia menemukan bahwa tipe melankolis memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam yang dapat menyebabkan terjadinya konversi agama/ pindah agama dalam dirinya. Kemudian faktor pembawaan, menurut penelitian Guy E. Swanson bahwa ada semacam kecendrungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak sulung dan anak yang bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan anak yang dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stress jiwa. Kondisi yang dibawa berdasarkan urutan kelahiran itu banyak mempengaruhi terjadinya seorang murtad.
Adapun faktor Ekstren adalah pertama, faktor keluarga, keretakan keluarga, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat dan lainnya, sehingga kondisi ini menyebabkan seorang stress dan untuk meredakan stress atau tekanan batinnya dia melakukan konversi agama. Kedua, faktor lingkungan tempat tinggal yang mana jika seseorang merasa terlempar atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat maka dia akan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahannya hilang. Ketiga, faktor perubahan status yang mana jika perubahan status ini terjadi secara mendadak akan banyak mempengaruhi konversi agama, misalnya perceraian, kawin dengan orang yang berlainan agama, ke luar dari sekolah. Keempat, faktor kemiskinan, kondisi sosial yang sulit juga merupakan faktor yang mendorong untuk konversi agama. Masyarakat awam yang miskin cenderung untuk memeluk agama yang menjanjikan kehidupan dunia yang lebih baik. Kebutuhan mendesak akan sandang dan pangan dapat mempengaruhi.
Dari hal di atas, dapat disimpulkan bahwa tekanan batin atau stress dapat mendorong seseorang untuk melakukan konversi agama. Dalam kondisi jiwa yang tertekan, maka secara psikologis kehidupan seseorang itu kosong dan tak berdaya sehingga dia berusaha untuk mencari ketenangan batin, salah satu caranya dengan konversi agama.
F.      Problematika Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Tokoh yang dianggap paling berjasa dalam melahirkan psikologi agama adalah Edwin Diller Starbuck, William James dan James H. Leuba. Mereka ini adalah orang-orang non muslim dan orang Barat. Setiap pendekatan mempunyai manfaat dan problematika, begitu juga dengan pendekatan psikologi agama yang mereka pelopori, banyak memberikan manfaat dan solusi dalam memecahkan berbagai problema, terutama dalam hal yang menyangkut persoalan kejiwaan yang berkaitan dengan masalah agama, dengan kata lain, bagaimana pengaruh keberagamaan terhadap proses dan kehidupan kejiwaan sehingga terlihat dalam sikap dan tingkah laku lahir ( sikap dan tindakan serta cara bereaksi) serta sikap, dan tingkah laku batin ( cara berfikir, merasa atau sikap emosi).
Dengan demikian, psikologi agama dapat dimanfaatkan oleh umat Islam untuk memberikan penjelasan ilmiah terhadap berbagai problema dan dapat pula dipakai untuk meningkatkan sumber daya manusianya. Setidaknya, psikologi agama dapat digunakan sebagai alat analisis untuk membedah berbagai permasalahan yang dihadapi umat Islam, seperti masalah kepatuhan pada aturan Allah, keterbelakangan pendidikan, dan sebagainya. Permasalahan tersebut dapat dianalisis dengan psikologi agama.
Walaupun demikian, disadari sepenuhnya bahwa sebagai ilmu yang dibangun dan dikembangkan dalam masyarakat dan budaya Barat, maka sangat mungkin kerangka pikir psikologi agama ini dipenuhi dengan pandangan-pandangan atau nilai-nilai hidup masyarakat Barat. Kenyataan yang sulit dibantah adalah psikologi lahir dengan didasarkan pada paham-paham masyarakat Barat yang sekularistik. Tak jarang kita temui pandangan-pandangan psikologi berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan Islam.
Adapun problematika atau permasalahan yang mungkin timbul dengan digunakan psikologi agama dalam mengkaji Islam adalah tentang konsep-konsep psikologi agama yang memiliki kekurangan dan keterbatasan bahkan mungin dapat menimbulkan bias yang sangat besar, karena sering kali mereduksi Islam ke dalam pengertian-pengertian yang parsial dan tidak utuh. Selain itu, kerena titik berangkatnya pembahasan ini adalah konsep psikologi, sehingga sering kali membuat kita terjebak, yaitu memandang persoalan lebih berangkat dari pemahaman terhadap psikologi dari pada Islamnya. Dengan demikian alangkah baiknya jika kita membangun suatu konsep psikologi yang berdasarkan pada Islam dengan merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadis.
G.     Signifikasi Dan Kontribusi Pendekatan Psikologi Agama Dalam Studi Islam
Pada zaman sekarang ini banyak terjadi fenomena seperti adanya bunuh diri bersama di negara Jepang dan beberapa negara lainnya, fenomena pergaulan bebas (free sex), tingginya tingkat pencurian motor, pembunuhan tanpa perasaan bersalah (mutilasi), bahkan fenomena-fenomena yang bersampul agama Islam sekalipun, seperti kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh umat Islam, perusakan tempat-tempat hiburan di Jakarta, beberapa tahun yang lalu dan sebagainya. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya fenomena tersebut? Hal ini tentu tidak dapat lagi sepenuhnya dikaji dengan pendekatan teologis-normatif semata. Maka disinilah metode dan pendekatan-pendekatan lainnya mengambil peran penting, termasuk psikologi, khususnya psikologi agama.
Pendekatan psikologi agama mempunyai peranan penting dan memberikan banyak sumbangan dalam studi Islam. Psikologi agama berguna untuk mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, difahami, dan diamalkan seseorang muslim, misalnya kita dapat mengetahui pengaruh dari ibadah shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya dalam kehidupan seseorang.
Psikologi agama juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan dan menanamkan ajaran agama Islam ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan pengetahuan ini, maka dapat disusun langkah-langkah baru yang lebih efesien dalam menanamkan ajaran agama Islam, baik untuk masa sekarang, maupun dimasa yang akan datang. Itulah sebabnya pendekatan psikologi agama ini banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan sikap keberagamaan seseorang. Dengan demikian seseorang akan memiliki tingkat kepuasan tersendiri dalam agamanya, karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan agama.
Selain itu, psikologi agama membantu untuk mengarahkan seseorang pada pendidikan agama Islam yang tepat, seperti terhadap seorang bayi, bahkan terhadap jabang bayi yang ada dalam kandungan seorang ibu yang sedang hamil. Lebih lanjut Jalaluddin menerangkan dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi. Jepang ternyata menggunakan pendekatan psikologi agama dalam membangun negaranya. Bermula dari mitos bahwa kaisar Jepang adalah titisan Dewa Matahari (Amiterasu Omikami), mereka dapat menumbuhkan jiwa Bushido, yaitu ketaatan terhadap pemimpin. Mitos ini telah dapat membangkitkan perasaan agama para prajurit Jepang dalam perang dunia II untuk melakukan Harakiri (bunuh diri) dan ikut dalam pasukan Kamiokaze (pasukan berani mati). Dan setelah selesai perang dunia II, jiwa Bushido tersebut bergeser menjadi etos kerja dan disiplin serta tanggung jawab moral.
Adapun kontribusi pendekatan psikologi agama dalam studi Islam adalah :
  1. Untuk membantu di dalam meneliti bagaimana latar belakang keyakinan beragama seorang muslim.
  2. Untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah keberagamaan seorang muslim, seperti penyakit mental dan hubungannya dengan keyakinan beragama.
  3. Untuk mengetahui bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya dan bagaimana pengaruh hubungan tersebut terhadap prilaku dan cara berpikir.
Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran beragama. Pengobatan pasien di rumah-rumah sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan nara pidana di lembaga permasyarakatan banyak dilakukan dengan cara menggunakan psikologi agama. Demikian pula dalam lapangan pendidikan, psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan peserta didik, dan sebagainya.


2.  
Faktor yang Mempengaruhi
                        Kenakalan  remaja  dalam  studi  masalah  sosial  dapat  dikategorikan  ke dalam  perilaku  menyimpang. Dalam  perspektif  perilaku menyimpang masalah sosial  terjadi  karena  terdapat  penyimpangan  perilaku  dari  berbagai  aturan-aturan sosial  ataupun  dari  nilai  dan  norma  sosial  yang  berlaku.  Perilaku menyimpang dapat  dianggap  sebagai  sumber masalah  karena  dapat membahayakan  tegaknya sistem  sosial. Penggunaan  konsep  perilaku  menyimpang  secara  tersirat mengandung makna  bahwa  ada  jalur  baku  yang  harus  ditempuh.  Perilaku yang tidak melalui  jalur tersebut berarti telah menyimpang. Untuk  mengetahui  latar  belakang  perilaku  menyimpang  perlu membedakan  adanya  perilaku  menyimpang yang  tidak  disengaja  dan  yang disengaja,  diantaranya  karena  pelaku  kurang memahami  aturan-aturan  yang  ada, perilaku   menyimpang  yang  disengaja,  bukan  karena  pelaku  tidak mengetahui aturan. Hal  yang  relevan  untuk  memahami  bentuk  perilaku  tersebut,  adalah mengapa  seseorang  melakukan  penyimpangan,  padahal  ia  tahu  apa  yang dilakukan melanggar aturan. Prilaku menyimpang yang muncul pada diri remaja bukanlah sesuatu yang instan. Ada banyak factor yang menyebabkan prilaku itu muncul, baik secara internal (factor dalam rumah dan psikologi) maupun eksternal (factor lingkungan luar)
a.    Faktor Internal
            Masa remaja identik dengan keceriaan, kebingungan, persahabatan, pengenalan diri dan sebagainya. Tidak jarang bila remaja mudah sekali tersinggung. Karena remaja lebih cenderung memiliki sifat egosentris. Dalam factor internal penyebab penyimpangan prilaku remaja, lebih cenderung kepada:
1)        Psikologi Pribadi
                                    Karena mental remaja yang masih tergolong labil dengan didukung                         keingintahuan yang kuat, maka biasanya mereka cenderung melakukan apa                         saja tanpa mempertimbangkan akibat yang akan ditimbulkan.
2)                 Keluarga
Rasulullah bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan firah. Maka bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, atau nasrani, atau majusi (HR. Bukhori).
                                                Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak dan prilaku anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah factor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik. Begitupu dengan kerusakan moral pada remaja juga tidak terlepas dari kondisi dan suasana keluarga. Keadaan keluarga yang carut-marut dapat memberikan pengaruh yang sangat negatif bagi anak yang sedang/sudah menginjak masa remaja. Karena, ketika mereka tidak merasakan ketenangan dan kedamaian dalam lingkungan keluarganya sendiri, mereka akan mencarinya ditempat lain. Sebagai contoh; pertengkaran antara ayah dan ibu yang terjadi, secara otomatis akan memberikan pelajaran kekerasan kepada seorang anak. Bukan hanya itu, kesibukan orang tua yang sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak adalah juga merupakan faktor penyebab moral anaknya bejat.

b.    Faktor Eksternal
1)        Lingkungan Masyarakat
                        Kondisi lingkungan masyarakat juga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter moral generasi muda. Pertumbuhan remaja tidak akan jauh dari warna lingkungan tempat dia hidup dan berkembang. Pepatah arab mengatakan “al insan ibnu biatihi”. Lingkungan yang sudah penuh dengan tindakan-tindakan amoral, secara otomatis akan melahirkan generasi yang durjana.
2)        Teman Pergaulan
                                                Perilaku seseorang tidak akan jauh dari teman pergaulannya. Pepatah arab mengatakan, yang artinya: ” dekat penjual minyak wangi, akan ikut bau wangi, sedangkan dekat pandai besi akan ikut bau asap”. Menurut beberapa psikolog, remaja itu cenderung hidup berkelompok (geng) dan selalu ingin diakui identitas kelompoknya di mata orang lain. Oleh sebab itu, sikap perilaku yang muncul diantara mereka itu sulit untuk dilihat perbedaannya. Tidak sedikit para remaja yang terjerumus ke dunia hitam, karena pengaruh teman pergaulannya. Karena takut dikucilkan dari kelompok/gengnya, maka seorang remaja cenderung menurut saja dengan segala tindak-tanduk yang sudah menjadi konsensus anggota geng tanpa berfikir lagi plus-minusnya.

a.         Dampak
                        Dampak kenakalan remaja pasti akan berimbas pada remaja tersebut. Bila tidak segera ditangani, ia akan tumbuh menjadi sosok dengan  bekepribadian buruk. Remaja yang melakukan kenakalan-kenakalan tertentu pastinya akan dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Remaja tersebut hanya akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna. Akibat dari dikucilkannya ia dari pergaulan sekitar, remaja tersebut bisa mengalami gangguan kejiwaan. Yang dimaksud gangguan kejiwaan bukan berarti gila, tapi ia akan merasa terkucilkan dalam hal sosialisai, merasa sangat sedih, atau malah akan membenci orang-orang sekitarnya.
                        Tak sedikit keluarga yang harus menanggung malu. Hal ini tentu sangat merugikan, dan biasanya anak remaja yang sudah terjebak kenakalan remaja tidak akan menyadari tentang beban keluarganya. Masa depan yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para remaja yang melakukan kenakalan. Bayangkan bila ada seorang remaja yang kemudian terpengaruh pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan dia tidak akan memiliki masa depan cerah. Hidupnya akan hancur perlahan dan tidak sempat memperbaikinya.

2.2       ANTISIPATIF DAN SOLUSI PERSPEKTIF ISLAM
            Lingkungan memiliki hubungan dengan manusia. Lingkungan mempengaruhi sikap dan prilaku manusia, demikian pula kehidupan manusia akan mempengaruhi lingkunga n setempatnya. Hubungan antara lingkungan dan kehidupan manusia sudah diakui para pemikir dan tokoh dunia sejak dahulu.
            Lingkunga adalah suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang mempunyai peran yang lebih kompleks dan riil.
            Telah disampaikan bahwa terciptanya manusia dimuka bumi ini adalah menjadi kholifah bagi ummat. Realitanya banyak remaja yang kehilangan jati dirinya, dikarenakan berbgai macam alasan. Sehingga berdampak sangat fatal, mulai  dari integritas moral samapi dengan tindak kriminalitas yang mengkhawatirkan.  Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang mampu menjadi suri tauladan yang baik. Pastinya yang tidak memiliki penyimpangan moral. Rasulullah bersabda: “ Innama buitstu li utammima makarima al-akhlaq”, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq ummat”. Rasulullah merupakan figur terhebat dalam Islam. Yang memiliki

          2.2.1       Cara Islam Mengatur Pergaulan Manusia
                        Hakikat manusia menurut Islam adalah makhluk (ciptaan) Tuhan, hakikat wujudnya bahwa manusia adalah mahkluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan. Manusia adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok, manusia yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash: 77.
                        Pergaulan secara sehat menurut syariat Islam ialah pergaulan yang diidentifikasikan secara sehat dan menurut syariat Islam pergaulan ini sangat bagus dan tidak merugikan siapa pun terutama diri kita sendiri. Karena secara fisik ialah pergaulan yang sangat luar biasa yang ditanamkan kepada semua umat Islam agar tidak salah pilih terhadap pergaulan. Banyak keuntungan yang bisa kita rasakan dari pergaulan sehat.
                   Islam telah mengatur perilaku remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah:
a.    Menutup Aurat
          Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurat merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya, terutama kepada lawan jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta tidak menimbulkan fitnah.
          Aurat laki-laki yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan bagi perempuan yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Disamping aurat, pakaian yang dikenakan jug a tidak boleh ketat, transparan atau tipis sehingga tembus pandang tidak memperlihatkan lekuk tubuh.
          Dalam (QS. An Nur [24] : 31): "Janganlah mereka menampakkan perhiasannya selain yang biasa tampak pada dirinya. Hendaklah mereka menutupkan kerudung (khimar) ke bagian dada mereka"  

b.    Menjauhi Perbuatan Zina
          Pergaulan antara laki-laki dengan perempuan di perbolehkan sampai pada batas tidak membuka peluang terjadinya perbuatan dosa. Islam adalah agama yang menjaga kesucian. Pergaulan di dalam Islam adalah pergaulan yang dilandasi oleh nilai-nilai kesucian. Dalam pergaulan denngan lawan jenis haruslah ada jarak sehingga tidak ada kesempatan terjadinya kejahatan seksual yang pada akhirnya akan merusak pridasi pelaku sendiri maupun masyarakat umum. Allah berfirma dalam surat Al-Isra’ ayat 32:
artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan buruk
          dalam rangka menjaga kesucian pergaulan remaja agarterhindar dari perbuatan zina, Islam telah membuat batasan-batasan sebagai berikut:
1)    Laki-laki tidak boleh berdua-duaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Jikalaki-laki dan perempuan di tempat yang sepi maka yang ketiga adalah syetan.
2)   Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh bersentuhan secara fisik. Saling besentuhan yang dilarang dalam Islam adalah sentuhan yang disengaja dan disertai nafsu birahi. Tetapi bersentuhan yang tidak disengaja dan tidak disertai nafsu.

2.2.2  Etika Pergaulan yang Baik
                   Semua agama dan tradisi telah mengatur tata cara pergaulan remaja. Ajaran islam sebagai pedoman hidup ummatnya juga telah mengatur tata cara pergaulan remaja yang dilandasi nilai-nilai agama. Tata cara itu meliputi:
a.    Mengucapkan Salam
                   Mengucapan salam ketika bertemu dengan teman atau orang        lain    sesama muslim. Ucapan salam merupakan doa, dengan kata    lain kita       telah mendoakan orang tersebut.

b.    Meminta Izin
          Meminta izi disini berarti tidak boleh meremehkan hak-hak orang lain. Karna setiap hak yang kita miliki pasti dibatasi juga dengan hak-hak orang sekitar kita.

c.    Menghormati Orang yang Lebih Tua dan Menyayangi yang Muda
          Remaja sebagai orang yang lebih muda sebaiknya menghormati yang lebih tua dan bisa mengambil hikmah dari sejarah kehidupan mereka. Ini semua tidak hanya berlaku untuk orang yang lebih tua, kepada orang yang lebih muda dari merekapun remaja harus memberi tuntunan dan bimbingan untuk selalu berada di jalan yang benar.

d.    Bersikap Santun dan Tidak Sombong
          Dalam bergaul, penekanan  prilaku yang baik sangat dicamkan, agar orang lain bisa merasa nyaman bersama kita.kemudian sikap dasar remaja yang biasanya ingin terlihat lebih dari temannya. Hal seperti ini tidak pernah diterapkan dalam Islam. Sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.

e.    Berbicara dengan Sopan
          Islam mengajarkan untuk bertutur sopan dan lembut, mengutamakan perkataan yang bermanfaat dengan gaya yang wajar dan tidak bual.

f.     Tidak saling Menghina
          Adalah sebuah kebiasaan yang tidak baik untuk remaja pada dewasa ini. Mengumpat hukumnya dilarang dlam Islam, sehinggadalam pergaulan antar sesama sebaiknya selalu menjaga perkataan.

g.    Tidak Saling membenci dan Iri Hati
          Rasa iri akan berdampak dan berkembang menjadi kebencian yang pada akhirnya mengakibatkan putusnya hubungan baik antar sesame. Iri hati merupakan penyakit hati yang membuat hati kita dapat merasakan ketidaktenangan serta merupakan sifat tercela baik di hadapan Allah dan manusia.

h.    Mengisi Waktu luang dengan Kegiatan yang Bermanfaat
          Masa remaja sebaiknya dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Remaja harus membagi waktunya dengan subjektif dan efesien, dengan cara membagi waktunya menjadi 3 bagian, yaitu: sepertiga untuk beribadah kepada Allah, sepertiga untuk dirinya, dan sepertiga terakhir untuk orang lain.

i.     Mengajak Orang Lain untuk berbuat Kebaikan
          Orang yang memberi petunjuk kepada orang lain menuju jalan kebenaran akan mendapatkan pahala seperti teman yang melakukan kebaikan itu.
                  
            2.2.3    Solusi
                        Dari berbagai permasalahan yang terjadi dikalangan remaja masa kini, maka tentunya ada beberapa solusi yang saya tawarkan dalam pembinaan dan perbaikan remaja masa kini.

a.      Membentuk Lingkungan yang Baik.
                             Sebagaimana disebutkan di atas lingkungan merupakan factor terpenting yang mempengaruhi prilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang sholeh, memilih teman yang dekat dengan sang Khalik dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan, jika hal ini mampu kita lakuakan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk melakuakan hal yang negative akan sedikit berkurang.

b.      Pembinaan dalam Keluarga.
                        Sebagaimana disebut diatas bahwa keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak, jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling kecil, seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan. Jangan sampai ada kata-kata bohong, membaca do’a setiap malakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar.

c.       Sekolah.
                        Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sekolah untuk memulai perbaikan remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan lain sebagainya,jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi.





3.
1.4 MANFAAT
Ada 2 manfaat yang dapat kita peroleh:
1)Manfaat umum meliputi:

Dampak Positif
1. Mempermudah komunikasi.
2. Menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi.
3. Memperluas jaringan persahabatan.

Dampak Negatif :
1. Mengganggu Perkembangan Anak :
Dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di hand phone (HP) seperti : kamera, permainan (games) akan mengganggu siswa dalam menerima pelajaran di sekolah? Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan HP untuk mencontek (curang) dalam ulangan. Bermain game saat guru menjelaskan pelajaran dan sebagainya. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi.

2. Efek radiasi
Selain berbagai kontroversi di seputar dampak negatif penggunaannya,. penggunaan HP juga berakibat buruk terhadap kesehatan, ada baiknya siswa lebih hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan atau memilih HP, khususnya bagi pelajar anak-anak. Jika memang tidak terlalu diperlukan, sebaiknya anak-anak jangan dulu diberi kesempatan menggunakan HP secara permanen.

3. Rawan terhadap tindak kejahatan.
Ingat, pelajar merupakan salah satu target utama dari pada penjahat.

4. Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku siswa.
Jika tidak ada kontrol dari guru dan orang tua. HP bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar.

5. Pemborosan
Dengan mempunyai HP, maka pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau HP hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi pemborosan yang saja.
2)Manfaat khusus meliputi:
1. Mempermudah komunikasi
2. Mengetahui perkembangan teknologi



b. Dampak Teknologi Informasi Bagi Pendidikan
1.  Malas belajar dan mengerjakan tugas
Penggunaaan komputer juga menimbulkan dampak negatif dalam dunia pendidikan. Seseorang terutama anak-anak yang terbiasa menggunakan komputer, cenderung menjadi malas karena mereka menjadi lebih tertarik untuk bermain komputer dari pada mengerjakan tugas atau belajar.
Solusi :
Solusi untuk meminimalisasi dampak negatif tersebut yaitu dengan memaksimalkan peran serta orang tua dalam memberikan perhatian, pengertian dan membimbing anak-anak dalam belajar dan bermain. Sehingga bila anak-anak dirasa sudah berlebihan dalam menggunakan komputer orang tua bisa segera membatasi dan mencegah terjadinya ketergantungan.
2. Perubahan Tulisan Tangan
Dengan kemudahan dan kepraktian yang diberikan oleh komputer, terutama dalam hal menuliskan suatu text, membuat seseorang cenderung memilih untuk mengetik daripada harus menulis secara manual. Akibatnya, lama kelamaan seseorang akan mengalami
perubahan tulisan, dari yang dulunya rapih, sampai akhirnya menjadi tulisan yang berantakan dan sulit dibaca, Hal tersebut karena mereka tidak lagi terbiasa untuk menulis secara manual.
Solusi :
Solusi untuk meminimalisasi dampak negatif tersebut yaitu dengan menyeimbangkan antara penggunaan tulisan manual dengan mengetik di komputer. Cobalah untuk tidak hanya mengandalkan komputer untuk membuat suatu text, karena perlu disadari bahwa tidak selamanya kita dapat mengandalkan teknologi. Teknologi hanyalah seperangkat alat yang bisa saja tiba-tiba terjadi kerusakan ataupun error, yang dimana pada saat itu kita tidak dapat lagi mengandalkannya, sehingga kita juga harus dapat menyeimbangkan antara penggunaan secara manual dengan penggunaan teknologi.
E. KESIMPULAN
Semua hasil pengembangan IPTEK khususnya dibidang teknologi informasi tersebut telah mampu mengatasi sebagian besar masalah manusia dalam berbagai macam kegiatan pemenuhan kebutuhan hidup. Di zaman yang modern ini semua serba instan, cepat dan tepat. Walaupun demikian, penyalahgunaan IPTEK juga sering dilakukan oleh manusia yang tidak bertanggung jawab dalam kegiatan kejahatan, dan bahkan merusak diri sendiri dan sesama. Sebagai makhluk yang berakal budi, maka kita seharusnya mensyukuri dan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi ini untuk menjadikan hidup kita ke arah yang lebih baik,


1.       Dampak Positif Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK )
Pemanfaatan TIK, akan mengatasi masalah sebagai berikut:
a.       Masalah geografis, waktu dan sosial ekonomis Indonesia.
b.      Negara Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan, daerah tropis dan pegunungan hal ini akan mempengaruhi terhadap pengembangan infrastruktur pendidikan sehingga dapat menyebabkan distribusi informasi merata.
c.       Mengurangi ketertinggalan dalam pemanfaatan TIK dalam pendidikan dibandingkan dengan negara berkembang dan negara maju lainnya.
d.      Akselerasi pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan mutu pendidikan yang sulit diatasi dengan cara-cara konvensional.
e.      Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan dan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi.
f.        Anak-anak dapat menggunakan perangkat lunak pendidikan seperti program-program pengetahuan dasar membaca, berhitung, sejarah, geografi, dan sebagainya. Tambahan pula, kini perangkat pendidikan ini kini juga diramu dengan unsur hiburan (entertainment) yang sesuai dengan materi, sehingga anak semakin suka.
g.       Membuat anak semakin tertarik untuk belajar.
h.      Dapat menjadi solusi bagi para orangtua yang memiliki anak yang merasa mudah bosan untuk belajar.
i.         Dapat menambah wawasan.
j.        Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.
k.       Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan sehingga tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan

2.       Dampak Negatif TIK terhadap pendidikan
a.       Pengalih fungsian guru yang, karena sistem pembelajaran dapat dilakukan dengan hanya seorang diri, dan kemungkinan etika dan disiplin peserta didik susah atau sulit untuk diawasi dan dibina sehungga lambat laun kualitas etika dan manusia khusunya para peserta didik akan menurun drastis, serta hakikat manusia yang utama yaitu sebagai makhluk sosial akan musnah.
b.      Ketergantungan terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi.
c.       Kecanduan terhadap games, terutama games online menonjolkan unsur-unsur seperti kekerasan dan agresivitas, sehingga dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut.
d.      Penipuan, Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.
e.      Violence and Gore yaitu Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat ‘menjual’ situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu
f.        Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face).
g.       Bukanya benar-benar memanfaatkan TIK dengan optimal malah mengakses hal-hal yang tidak baik, seperti pornografi yang sangat mudah di akses yang berefek buruk bagi anak dibawah umur ataupun bagi yang sudah dewasa sekalipun.
h.      Membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut.
i.         Carding, Karena sifatnya yang ‘real time’ (langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah carayang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.
j.        Perjudian dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.
k.       Health Issues ( Issue Kesehatan ), penggunaan BTS dan Elektromagnetis yang dapat mengganggu kesehatan pengguna dan dapat menyebabkan banyak penyakit seperti persendian, kanker dan lain – lain
l.         Impact on Globalization on Culture, makin menipisnya nilai - nilai budaya lokal akibat pengaruh globalisasi.  Salah satu contohsederhananya yaitu seberapa baikkah kemampuan bahasa daerah kita dibandingkan dengan bahasa asing

3.       Pemecahan Masalah dan Solusi dalam mengatasi dampak negatif TIK
Agar penggunaan TIK lebih optimal dan di jalankan dengan baik dan benar, berikut ada beberapa metode pemecahan masalah agar dampak negatif dari TIK dapat tertanggulangi.
a.       Mempertimbangkan pemakaian TIK dalam pendidikan, khususnya untuk anak di bawah umur yang masih harus dalam pengawasan ketika sedang melakukan pembelajaran dengan TIK. Analisis untung ruginya pemakaian.
b.      Tidak menjadikan TIK sebagai media atau sarana satu-satunya dalam pembelajaran, misalnya kita tidak hanya mendownload e-book, tetapi masih tetap membeli buku-buku cetak, tidak hanya berkunjung ke digital library, namun juga masih berkunjung ke perpustakaan.
c.       Pihak-pihak pengajar baik orang tua maupun guru, memberikan pengajaran-pengajaran etika dalam ber-TIK agar TIK dapat dipergunakan secara optimal tanpa menghilangkan etika.
d.      Perlu ada kesadaran peran dan kerjasama antara seluruh pengguna lanyanan TIK.
e.      Menggunakan software yang dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak. Misalnya saja program nany chip atau parents lock yang dapat memproteksi anak dengan mengunci segala akses yang berbau seks dan kekerasan.
f.        letakkan komputer di ruang publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar anak. Meletakkan komputer di dalam kamar anak, menurut Nina akan mempersulit orangtua dalam hal pengawasan. Anak bisa leluasa mengakses situs porno atau menggunakan games yang berbau kekerasaan dan sadistis di dalam kamar terkunci. Bila komputer berada di ruang keluarga, keleluasaannya untuk melanggar aturan pun akan terbatas karena ada anggota keluarga yang lalu lalang.
g.       Untuk mencegah kecanduan orang tua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain komputer. Sehingga pada usia yang lebih besar, diharapkan anak sudah dapat lebih mampu mengatur waktu dengan baik.
h.      Pemerintah sebagai pengendali sistem-sistem informasi seharusnya lebih peka dan menyaring apa-apa saja yang dapat di akses oleh para pelajar dan seluruh rakyat Indonesia di dunia maya. Selebihnya, Kementrian juga bisa menyebarkan filter berupa program software untuk menekan dampak buruk teknologi informasi. Kedua, perlu adanya dukungan dari orangtua, tokoh budaya hingga kalangan agamawan, untuk mensosialisasikan tentang saran, manfaat dan sisi positif facebook.
Jadi, solusinya adalah kita jangan sampai mengatakan tidak pada teknologi (say no to technology) karena jika kita berbuat demikian, maka kita akan ketinggalan banyak informasi yang sekarang ini informasi-informasi tersebut paling banyak ada di internet. Kita harus mempertimbangkan kebutuhan kita terhadap teknologi, mempertimbangkan baik-buruknya teknologi tersebut dan tetap menggunakan etika, juga tidak lupa jangan terlalu berlebihan agar kita tidak kecanduan denagn teknologi.